<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/1834785569985742356?origin\x3dhttp://ohsehun.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Photobucket

DISCLAIMER

No ripping, spamming, blablabla etc etc….


PROFILE


Hello~~~ ~^o^~ Lusy was here (?) Ok. First... My name is Lusy and my Korean name is Hyun Ji. You can call me Lusy or Hyun Ji. It's up to you ^^ I'm 14 yo and was born on March 22nd~ ^^ I'm an EXO Fans. And my bias are Suho and Luhan Nice to meet u guys ^^~ You can ask me anything in cbox :D



WISHLIST

♥ New laptop
♥ Buy EXO new album



TAGBOARD




AFFIES

EXO FANS Indonesia Facebook Fanpage



PAST

March 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
September 2011
November 2011
March 2012
April 2012



CREDITS

Designer: Helena
Image: Cyworld
Basecodes: Milkypoop
Cursors: Puremilky


Wednesday, June 22, 2011 8:29 PM


My Camera, My Privation

cr pic: blogskins

YuRa’s POV

Aku sedang memotret pemandangan yang ada di sekitarku. Pemandangan di sekitar sini memang indah sekali.

Aku menyesap cappuchino ku perlahan-lahan sambil melihat hasil foto yang baru saja ku hasilkan.

Café ini adalah café langganganku. Aku sangat suka atmosfer di café ini. Sangat indah. Mereka merancang café ini dengan sangat tepat.

Semua tempat duduk yang berada di café ini mempunyai kesan yang berbeda dan sama indahnya. Sehingga, mau duduk dimana saja, café ini akan tetap terlihat indah.

Café ini mempunyai jendela yang langsung menembus keluar sehingga terlihat pemandangan indah yang berada di luar sana. Anak-anak kecil sedang berlarian, pepohonan yang sangat rindag, dan pemandangan indah lainnya.

Aku sangat ingin menjadi seorang photographer. Aku suka melihat pemandangan indah di depanku dan hasilnya cukup memuaskan untuk seorang amatiran sepertiku.

Selain memotret pemandangan, aku juga suka memotret orang-orang.

Asal kalian tahu saja, di sekolah, aku bahkan bisa dijuluki stakler. Eh? Aneh sekali mereka menyebutku seperti itu.

Aku selalu membawa kameraku kemana-mana karena aku takut akan ada yang melihat gambar-gambar di kameraku.

Jujur saja, sangat banyak foto-foto rahasia yang berada di kamera itu. Dan, tentu saja itu bukan foto porno. Jangan memikirkan yang aneh-aneh. -_-

Cappuchino yang kuminum sejak 1 jam yang lalu sudah habis tak bersisa. Aku membayar cappuchino itu dan berjalan pulang karena hari sudah mulai senja.

***

Aku sedang duduk di kelas sambil memegangi kameraku. Teman-temanku sudah tidak heran lagi jika kameraku adalah benda berhargaku. Tapi, mereka tidak sekalipun mempermasalahkan jika aku tidak ingin menunjukkan apa yang ada di dalamnya karena aku tak pernah menyebarkan ke situs jejaringan sosial atau yang lainnya jika aku memotret mereka.

Kelas ini agak sedikit ribut. Guru terakhir tidak masuk dan sebenarnya kami boleh saja pulang. Hanya saja, aku sedang malas untuk pulang.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk punggungku.

Aku beranjak bangun untuk melihat siapa yang menepuk punggungku.

Aku tersenyum melihat siapa yang menepuk punggungku tadi.

Yang berada dihadapanku saat ini adalah sahabat-sahabatku. Kim Hye Na dan Choi Ji Yoo.

“Yak! Apa yang sedang kau lamunkan, hah? Ayo kita pulang.” Kata Hye Na.

“Yups! Tak tahukah kau bahwa perutku ini lapar? Aku ingin pulang.” Kata Ji Yoo sambil memegang perutnya. Dasar. Anak itu memang tak bisa lepas dari makanan.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan segera membereskan barang-barangku sebelum mereka mengomel lagi.

Kami ber-3 pergi keluar kelas sambil berbincang-bincang.

“Hey, kau tahu kan sebelum pulang kita harus kemana?” Kata Hye Na sambil senyam senyum begitupula dengan Ji Yoo.

Aku hanya mengehela nafas.

“Aku tahu. Berhentilah memberitahuku. Ini bahkan sudah 100x kau menyebutkan itu Hye Na.”

Hye Na dan Ji Yoo hanya cengar-cengir gak jelas.

Kami ber-3 pun berjalan menuju tangga lantai 2. Karena kami masih kelas 1 Senior High School, kami berada di lantai paling bawah. Kelas 2 dan 3 berada di lantai 2 dan 3. Sedangkan, di lantai 4 dan 5 adalah tempat lab dan perpustakaan. Sedangkan, ruang guru-guru juga berada di lantai 1 tetapi gedungnya terpisah dengan gedung kelas 1.

Saat kami hendak naik ke atas. Kami mendengar suara 3 namja yang berbincang sambil tertawa-tawa.

Seketika juga badanku membeku.

“Oh, hey. Kami sudah menunggu kalian dari tadi. Karena terlalu lama, kami memutuskan untuk pergi ke kelas kalian.” Kata seorang namja yang… ehem… kuakui tampan yang sedang tersenyum lalu menghampiri kami. Kedua namja yang berada di belakangnya mengikutinya untuk menghampiri kami.

Kedua orang dari ketiga namja itu menghampiri Hye Na dan Ji Yoo.

Namja yang berada di samping Hye Na menggenggam tangan Hye Na, dan, namja yang berada di samping Ji Yoo menggenggam tangan Ji Yoo lalu mencium pipinya. Eh? APA? MENCIUM PIPINYA?

“DONGHAE OPPA!!! KENAPA KAU MENCIUM PIPIKU??? INI DI SEKOLAH!!!” Teriak Ji Yoo sambil menahan marah dan malu. Mukanya memerah.

Donghae yang ternyata adalah nama namja itu hanya terkekeh kecil.

“Karena kita sudah tidak bertemu selama 7 jam. Aku kangen padamu.” Kata Donghae memulai gombalannya.

Aku yang sedang meminum air putih hampir saja memuncratkan minuman itu keluar.

“Yak! Yak! Lee Donghae! Jaga sikapmu. Ini di sekolah.” Kata seorang namja yang berada di sebelah Hye Na sambil menjitak Donghae oppa.

“Yak! Choi Siwon! Jangan menjitak kepalaku!” Kata Donghae oppa kepada namja yang bernama Choi Siwon itu lalu mengelus kepalanya yang habis terkena jitakan.

Aku dan Hye Na hanya terkekeh kecil melihatnya. Sedangkan, Ji Yoo masih berusaha menutupi mukanya yang memerah karena malu.

Tiba-tiba ada yang menyenggolku dan sepertinya berusaha mengambil kamera yang berada di tanganku.

Aku menoleh untuk melihat siapa orang itu.

“Yak!!! Cho Kyuhyun!!! Apa yang sedang kau lakukan, hah? Kau kira aku tidak tahu?” Kataku sambil menatapnya tajam.

Dia mengerling.

“Ck… Padahal aku sudah melakukannya dengan perlahan-lahan agar tidak ketahuan.” Katanya sambil berdecak kesal.

“Lagian, kenapa kau penasaran sekali dengan foto-foto yang berada di kameraku, hah?” Kataku agak kesal.

“Karena bisa saja disitu bisa ada foto porno. Dan setidaknya aku menyelatkanmu dari hukuman jika benar kau menyimpan foto-foto porno karena kau tidak ingin memperlihatkan foto yang ada disana.”

Aku menginjak kakinya dengan kesal. Dia merintih kesakitan.

“YAK! Kau yeoja bukan sih?” Teriaknya marah sambil memegangi kakinya yang kuinjak.

Aku menatapnya dan menginjak kakinya yang satu lagi.

“Yak! Cukup sampai disini. Apakah kalian tidak dapat berdamai untuk 1 hari saja?” Kata Siwon oppa menengahi perkelahian kami.

“TIDAK BISA!” Kataku dan Kyuhyun berbarengan. Kami saling menatap, lalu menolehkan kepala kami kearah lain.

Ke-4 orang yang berada di depan kami hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kami berdua.

Kyuhyun’s POV

Beginilah rutinitasku setiap hari saat berada di sekolah. Selalu saja bertengkar dengannya.

Argh! Aku memang tidak bisa mengatakan perasaanku secara terang-terangan. Aku kan bukan ikan gila yang dengan seenaknya mencium pipi gadis yang disukainya di depan umum.

Aku sangat penasaran dengan foto-foto yang berada di kameranya. Dia selalu membawa kameranya kemana-mana.

Aku hanya beralasan bahwa ada foto porno di kameranya. Sebenarnya, bukan itu yang kukhawatirkan. Aku hanya khawatir tentang foto namja yang disukainya yang berada di kameranya. Aku takut jika ia ternyata menyukai seseorang dan itu bukan aku. Aku sangat penasaran karena sempat mendengar perbincangan Yu Ra dan Ji Yoo.

*Flashback*

Aku sedang berlari ke kantin dan memutuskan mengambil jalan pintas menuju taman belakang karena menurutku jalan itu lebih dekat menuju kantin.

Langkahku terhenti saat mendengar suara familiar yang sering kudengar.

Aku bersembunyi dan sedikit mengintip agar melihat siapa yang berbicara.

“Hey! Yu Ra ah~ Aku ingin tahu kenapa kau sama sekali tidak ingin memberitahu apa saja foto-foto yang berada di kameramu? Sampai membuat motto ‘My Camera, My Privation’ begitu.” Kata seorang yeoja yang kukenali bernama Ji Yoo.

“Hm… kenapa ya? Yang jelas. Tentu saja aku tidak mengambil gambar-gambar porno. Kau kan tahu, melihat orang berciuman saja aku sudah jijik.” Balas Yu Ra.

“Aku tidak bilang kau menyimpan foto-foto porno Hae Yu Ra. Aku hanya ingin tahu kenapa kau melarang kami untuk melihat kameramu. Ayolah, aku kan sahabatmu.” Kata Ji Yoo merajuk.

“Haha… kenapa kau penasaran sekali 1 minggu ini Choi Ji Yoo?” Kata Yu Ra sedikit bercanda.

“Oh, ayolah. Aku hanya ingin tahu mengapa. Setelah itu aku tidak akan membahas tentang ini lagi, ok? Bagaimana?” Kata Ji Yoo mengusulkan.

Yu Ra terlihat seperti berpikir.

“Ehm… baiklah. Aku akan bilang kepadamu. Tapi, kau jangan bilang ke siapa-siapa. Yang tahu hal ini hanya Hye Na, kau, dan aku. Arasseo?” Kata Yu Ra sedikit mengancam.

Ji Yoo mengangguk cepat.

“Ehm… sebenarnya… di kamera ini… aku banyak mem-foto namja yang diam-diam kusukai.” Kata Yu Ra agak sedikit malu-malu.

“APA???” Ji Yoo langsung berteriak shock setelah mendengar itu.

Yu Ra membekap mulutnya sambil memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada yang mendengar teriakan Ji Yoo yang cempreng itu.

“Yak! Diamlah! Sudah kubilang, jangan sampai ada yang tahu selain Hye Na, kau, dan aku.” Kata Yu Ra sedikit kesal.

“Hehe… maaf. Keceplosan.” Kata Ji Yoo sambil memasang muka innocentnya dan membentuk tanda peace di tangannya.

“Lalu… siapa namja beruntung yang kausukai itu, huh? Setahuku, selama ini kau tak pernah menyukai seseorang?”

“Choi Ji Yoo… bukankah kau sudah berjanji tidak akan membahas tentang kamera itu lagi setelah aku memberitahunya?” Kata Yu Ra.

“Eh? Bukankah hal kamera dan namja itu berbeda?” Kata Ji Yoo polos.

“Aigoo… tetap saja. Kan masih berhubungan dengan apa yang dibicarakan.” Kata Yu Ra sambil mencubit pipi Ji Yoo.

“Yak! Kenapa kau mencubit pipiku, hah? Aku kan hanya penasaran.” Kata Ji Yoo cemberut sambil mengelus pipinya.

“Haha… kenapa kau sangat penasaran dengan hal-hal sepele sih? Walau kau membelikanku poster Super Junior saja tak akan kuberitahu siapa namja itu.” Kata Yu Ra sedikit bercanda.

“Uuh… kau pelit.” Kata Ji Yoo masih cemberut.

Mereka berdua pun berlalu begitu saja setelah percakapan itu.

Aku bertanya-tanya di dalam hatiku siapa namja itu. Aku sudah menyukai Yu Ra sejak ia melangkahkan kakinya di sekolah ini. Akan berbahaya jika ternyata pria yang disukai Yu Ra itu juga menyukainya. Aku tidak akan bisa bernafas dengan baik saat itu terjadi.

Aku tetap diam di tempatku sambil berpikir. Seketika juga, aku mengingat sesuatu dan menepuk kepalaku.

“Aigoo! Tadi kan aku mau pergi ke kantin. Aish… gara-gara Hae Yu Ra itu.” Kataku berbicara pada diri sendiri.

Aku bergegas berlari ke kantin sambil berpikir sejuta alasan agar Siwon dan Donghae tidak marah menunggu lama di kantin.

*End Of Flashback*

Aku harus memikirkan cara untuk mengetahui isi dari kamera itu. HARUS. Jika aku sudah mengetahuinya, aku akan melakukan apapun agar pria itu pergi dari kehidupan Yu Ra.

YuRa’s POV

Aigoo aigoo!!! Hampir saja. Untung saja aku dapat menyelamatkan kameraku ini. Walau berakhir dengan perkelahian.

Oke, ini khusus untuk kalian. Aku akan memberitahu mengapa aku tidak ingin memperlihatkan kameraku kepada siapapun.

Karena… namja yang kusukai itu adalah… CHO KYUHYUN!

Aku bukanlah tipikal yeoja yang akan berterus terang kepada namja yang kusukai. ANDWAE! TIDAK MUNGKIN.

Kalau sedang sendirian, aku akan memotretnya diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun. Dan, apakah kalian tahu? Foto itu kucetak dan kutempel di dinding kamarku. Itulah kenapa aku tidak memperbolehkan Hye Na dan Ji Yoo masuk ke kamarku. Mau di kemanakan mukaku ini?

Aku merasa benar-benar seperti stakler. Aku cukup puas dengan hasil-hasil foto diam-diamku ini. Mungkin, hasil fotonya kalau di jumlahkan ada 1000 lebih. Aku sudah mengoleksi fotonya sejak menginjakkan kakiku di sekolah ini.

Dan, aku ini adalah tipikal yeoja yang tidak bisa dekat-dekat dengan namja yang kusukai. Setidaknya namja itu harus berada jauh 1 meter atau lebih dariku.

Kalian pasti bingung kenapa aku sampai bisa menginjak kaki Kyuhyun tadi. Benarkan? Sebenarnya, bahkan, jantungku hampir lepas saat berada sedekat itu dengannya. Aigoo! Untung saja aku tidak pingsan.

“Jauh jauh dariku kau Cho Kyuhyun!” Kataku sambil berjalan ke samping Hye Na.

“Siapa juga yang mau dekat-dekat denganmu. Dan, YAK! Sudah berapa kali kau kuperingatkan, hah? PANNGIL AKU OPPA!!!!!” Kata Kyuhyun yang membuat burung-burung yang berada di dekatnya langsung pergi kalang kabut dan juga membuat kami menutup kuping untuk yang kesekian kalinya.

Oke. Saat seorang Cho Kyuhyun bernyanyi, kalian akan merasa aman dan nyaman berada di dekatnya. Tapi, pada saat dia berteriak seperti tadi, lebih baik kalian pergi untuk menyelamatkan kuping kalian dari ancaman tuli mendadak.

“Aigoo… Kyuhyun… berhentilah berusaha membuat kuping kami semua tuli.” Kata Siwon oppa sambil mengusap-ngusap kupingnya yang nyeri karena teriakan Kyuhyun.

“Huh, jangan salahkan aku jika membuat kalian tuli. Salahkan yeoja itu.” Kata Kyuhyun sambil menunjukku.

“Mwo? Apa katamu? Kenapa kau jadi menyalahkanku? Aish.” Kataku kesal.

“Stop! Stop! Tidak ada perkelahian lagi untuk hari ini. Kepalaku sudah pusing dengan ajaran Guru Kim yang sangat tidak jelas itu di kelas.” Kata Donghae oppa sambil memijat-mijat kepalanya.

“Bukankah pelajaran itu hanya diulang? Itu kan materi yang paling gampang di semester ini.” Kata Kyuhyun sambil mencibir.

“Aku tahu kan pintar matematika tuan Cho Kyuhyun.” Kata Donghae oppa sambil menekankan suaranya di setiap katanya.

Kyuhyun hanya cuek saja mendengarnya. Kuakui, dia memang sangat ahli di bidang matematika. Tidak sepertiku, ulangan mudah saja mendapat 65. -_-

Aku memilih untuk diam daripada melanjutkan pertengkaranku dengannya. Aku sedang malas hari ini. Aku hannya memilih menjauh dan diam.

Kami ber-6 pun pulang ke rumah masing-masing. Rumahku dan Cho Kyuhyun itu searah. Tapi, untung saja rumah Siwon oppa dan Hye Na juga searah dengan rumahku. Sehingga, aku tidak perlu bertengkar dengannya.

***

Author’s POV

Hari ini Yu Ra kembali bermalas-malasan di kelasnya.

Yu Ra merasa tiba-tiba perutnya sakit dan seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Sehingga, ia memutuskan untuk pergi ke toilet dan tanpa sengaja, ia meninggalkan kameranya di atas atas mejanya.

Kyuhyun’s POV

Aku, Siwon, dan Donghae pergi ke kelas Yu Ra, Ji Yoo, dan Hye Na. Pada jam istirhat, kadang-kadang kami akan pergi ke kelas mereka dan mengajak mereka untuk pergi ke kantin bersama-sama.

Kami ber-3 akhirnya sampai di kelas mereka. Siwon dan Donghae langsung berlari ke arah Ji Yoo dan Hye Na begitu saja. Saat mereka sedang bersama yeojachingu mereka itu, aku pasti dilupakan. Naas sekali hidupku.

Aku mengarahkan pandanganku ke seluruh kelas dan, aku tidak melihat Yu Ra. Aku tak menghiraukan teriakan yeoja-yeoja yang ada di sekitarku. Oh, apakah aku belum bilang? Aku adalah Ketua Osis yang mempunyai prestasi terbaik selama sekolah ini berdiri. Aku bahkan pernah dibilang nyaris sempurna karena hampir tidak ada yang cacat di dalam diriku. Sekalipun di wajahku ada pimples, tetap saja pesonaku tidak tertahankan. Aku sampai heran kenapa Yu Ra cuek-cuek saja melihatku tidak seperti yeoja lain yang langsung berteriak histeris.

“Yu Ra tadi pergi ke luar begitu saja oppa. Kami tidak tahu dia pergi ke mana. Tapi, tadi aku melihatnya memegang perutnya, kurasa dia ke toilet.” Kata Hye Na yang cukup mengejutkanku karena ia sudah berada di sampingku bersama Siwon.

“Oh, begitu.” Kataku berpura-pura cuek. Aku kembali mengarahkan pandanganku ke seluruh kelas dan melihat meja yang diatasnya terdapat kamera seperti kepunyaan Yu Ra.

Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Hye Na.

“Hem, itu tempat duduk siapa?” Kataku sambil menunjuk tempat duduk yang kucurigai tempat duduk Yu Ra.

“Hah? Oh, itu tempat duduk Yu Ra oppa. Aigoo… tumben sekali dia meninggalkan kameranya. Kurasa dia sedang terburu-buru sampai lupa membawa kameranya.” Jawab Hye Na.

Benar dugaanku, itu memang tempat duduk Yu Ra.

“Yak! Kyuhyun ah~ Ayo pergi ke kantin!” Ajak Donghae yang sudah berada di depan pintu kelas.

“Eh? Euhm… aku akan menunggu Yu Ra sampai dia datang saja. Kalian ber-4 duluan saja.” Kataku.

“Oh, baiklah. Kalau Yu Ra sudah kembali, langsung susul kami ke kantin, ok?” Kata Siwon.

Aku hanya mengangguk dan mereka pun pergi ke kantin.

Aku kembali mengarahkan mataku ke kamera yang berada di tempat duduk Yu Ra.

Aku berjalan mendekati kamera itu. Dan meraihnya dengan tanganku.

Aku sedikit mengutak-ngutiknya. Dan, aku tersentak melihat apa yang sedang kulihat saat ini.

“YAK! CHO KYUHYUN! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? HAH?”

Aku kembali tersentak saat mendengar suara seseorang yang meneriakkiku.

YuRa’s POV

Aku keluar dari toilet dengan perasaan lega.

“Sepertinya aku salah makan tadi pagi sampai-sampai seperti ini.” Pikirku.

Saat berjalan pelan di koridor sekolahku, aku menyadari ada sesuatu yang janggal. Tapi apa?

Aku berpikir keras untuk beberapa saat. Dan saat aku menemukan kejanggalan itu. Aku langsung berteriak.

“MWO? KAMERAKU!”

Aku bergegas berlari ke kelasku untuk mengambil kameraku. Aku tak menghiraukan pandangan aneh orang-orang yang melihatku.

Dan, saat aku sampai di kelas, apa yang kulihat?

CHO KYUHYUN SEDANG MENGUTAK-ATIK KAMERAKU! GYAAAAAAAAA!!! ANDWAE!!!

Sepertinya sudah terlambat, karena, aku sempat melihat dia tersentak melihat apa yang ada di dalam kamera itu. Appa, umma, anakmu akan mati sebentar lagi. TT__TT

“YAK! CHO KYUHYUN! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? HAH?” Teriakku dengan seketika dan membuatnya tersentak.

Dia membalikkan badannya dan dalam seketika juga aku mengambil kameraku secara cepat dari tangannya dan mematikan kameraku.

“M… mwo? Aku hanya… melihat kameramu.” Katanya sedikit tersendat-sendat.

Aku tahu, ia sudah melihat isi kameraku. Seketika juga wajahku memerah.

Aku hendak berlari keluar kelas tapi tangannya menahan tanganku lalu menarikku keluar kelas.

“Siwon, Hye Na, Donghae, dan Ji Yoo sudah menunggu kita di kantin. Ayo.” Katanya tanpa menatapku.

Tangannya sangat hangan dan nyaman. Aigoo!!! Aku bisa pingsan! Andwae!!!

Kyuhyun’s POV

Aku sudah tidak dapat memikirkan apa-apa lagi saat mengetahui isi kamera Yu Ra. Aku langsung menggenggam tangannya saking senangnya. Dia pun hanya diam dan mengikutiku. Sepertinya kami berdua sedang tidak waras untuk saat ini.

Saat sampai di kantin, sebelum Siwon dan Donghae melihatnya, aku melepaskan genggaman Yu Ra. Ada rasa sedikit tidak rela. Tangannya sangat lembut dan sangat nyaman saat di genggam.

“Oh! Kalian sudah disini. Ayo duduk!” Kata Siwon sambil menyuruhku dan Yu Ra duduk.

Kami berdua duduk berhadapan karena hanya tempat itu yang tersisa. Siwon, Hye Na, Donghae, dan Ji Yoo heran melihat kami yang tidak bersikap seperti biasanya. Tapi, daripada mereka melihat hawa setan kami berkoar, mereka memilih untuk tidak memperdulikan kami.

***

Pelajaran matematika adalah pelajaran kesukaanku. Tapi, saat ini aku sedang tidak dapat berpikir jernih saat meningat kejadian itu. Aish! Hae Yu Ra dengan mudahnya merusak fungsi kerja otakku!

Saat guru Kim lengah, aku menulis pesan di hp ku dan mengirimkannya pada seseorang.

YuRa’s POV

Hari ini pelajaran Fisika, dan aku sangat bosan. Aku sangat membenci pelajaran itu. Walau aku sedikit menyukai matematika. Oke. Teliti baik-baik perkataanku tadi. Sedikit. Tapi, aku tidak suka istilah-istilah tidak jelas yang berada di pelajaran Fisika. Matematika hanya menggunakan x, y, dll. Sedangkan, Fisika? Istilah tak jelas apa itu? Aku hampir frustasi saat ulangan Fisika. Untung saja teman sekelasku ada yang berbaik hati yang mengajarkanku Fisika dengan kesabaran tingkat tinggi karena otakku sangat lambat untuk menangkap pelajaran itu.

Aku sedikit tersentak karena tiba2 saja hp ku bergetar. Tanda ada pesan masuk.

Aku melirik hp ku untuk melihat pesan yang ada disana saat guru Soo Ae masih berkicau dengan istilah-istilah tidak jelas.

From: Cho Kyuhyun
Temui aku di taman belakang sekolah saat jam pulang. Jika kau tidak datang, kau akan rasakan akibatnya Hae Yu Ra.

Aku mengerling kesal melihat sms darinya. Tumben-tumben dia meng-sms ku dan sampai-sampai mengancamku segala.

Aish… Aku yakin dia akan membicarakan soal kameraku lagi. Andwae… bagaimana ini. Kalau aku tidak datang bisa-bisa dia malah menyebar tentang apa yang ada di dalam kameraku. Jika aku datang, mau ditaruh mana mukaku? Andwae!!!

Aku meremas kesal hp ku tanpa memperdulikan panggilan guru Soo Ae yang ternyata sudah memanggil namaku dari tadi.

“YAK! HAE YU RA! KAU MAU MATI, HAH? CEPAT KEMARI DAN KERJAKAN SOAL INI! JIKA KAU TAK BISA, KAU KUHUKUM BERDIRI DI DEPAN KELAS SAMPAI PULANG SEKOLAH!”

Aku tersentak kaget mendengar teriakan guru Soo Ae. Teman-temanku tertawa melihatku tapi, Hye Na dan Ji Yoo hanya bingung melihatku.

“Nde songsaenim. Jeoseonghamnida.” Aku membungkukkan badanku dalam-dalam dan menuju ke arah papan tulis dan berusaha mengerjakan soal itu.

Untung saja dongsaengku pernah mengajarkanku materi ini. Sehingga aku bisa mengerjakannya sedikit mudah. Jangan heran jika malah dongsaengku yang mengerti pelajaran anak SMA. Dongsaengku memang hebat dalam pelajaran Fisika. Aku merasa menjadi unnie yang tidak becus jika mengingat hal itu.

“Hm. Kau mengerjakannya dengan benar. Yasudahlah. Kali ini kau maafkan. Lain kali jangan diulangi lagi.” Kata guru Soo Ae.

“Nde songsaenim. Jeoseonghamnida.” Kataku sambil menundukkan badanku lalu bergegas menuju tempat dudukku.

Aish! Awas kau Cho Kyuhyun! Aku akan menginjak kakimu saat kita bertemu. Lihat saja nanti!

***

Aish! Namja kurang ajar! Dia menyuruhku untuk mendatanginya di taman belakang sekolah, tapi bahkan batang hidung orang yang menyuruhku kesini aja tidak ada.

Aku memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang berada di dekatku. Aku menunggu Kyuhyun sambil membaca buku komik kesukaanku.

Kyuhyun’s POV

Aku melihatnya sedang duduk sambil membaca buku di taman belakang.

Aish! Aku gugup. Apa yang harus kulakukan? Bukankah aku yang menyuruhnya kesini? Kenapa malah aku yang grogi?

Aku memutuskan untuk menghampirinya dari belakang tanpa bersuara karena sudah dari tadi aku hanya melihatnya duduk disitu.

Saat aku sudah sampai di dekatnya, aku memeluknya dari belakang. Aish! Otakku kembali rusak saat ini juga! Aku tak tahu akal sehatku sudah pergi kemana.

“Kyu… Kyuhyun… apa yang sedang kau lakukan? Lepaskan aku!” Katanya memerintah sambil berusaha melepaskan pelukanku.

Bukannya melepaskannya, aku malah mempererat pelukanku. Aku sudah gila sepertinya.

“K… Kyuhyun…” Ia tersendat-sendat memanggilku. Ia pasti merasa aneh dengan sikapku yang sekarang. Aku bahkan merasa aneh dengan diriku sendiri.

“Jadi, benarkah itu?” Kataku akhirnya berbicara.

“Mwo?” Katanya bingung.

“Benarkah bahwa kau menyukaiku?” Kataku langsung. Seketika itu juga badannya langsung membatu. Tebakanku sangat benar.

“Ani. Kau salah.” Katanya lirih.

DEG! Apa maksud dari perkataannya. Kalau memang aku salah, untuk apa dia menyimpan foto-fotoku?

Dia membalikkan badannya lalu menatapku dengan mata besarnya.

“Kau salah dalam pengucapan kata-kata Cho Kyuhyun. Aku bukan menyukaimu. Tapi mencintaimu.”

Seketika itu juga hatiku meledak. Aigoo… Aku memeluknya lagi.

Setelah cukup lama aku memeluknya, akhirnya aku memutuskan untuk duduk disebelahnya.

Cukup lama tidak ada perbincangan di antara kami. Tidak ada yang ingin memulai percakapan sama sekali. Padahal biasanya kami bahkan akan saling melempar satu sama lain.

“Ehm… kenapa aku tidak pernah tau saat kau memotretku?” Akhirnya aku memulai pembicaraan.

“He? Ehm… itu karena… aku memotretmu saat tidak ada orang di sekitarku dan saat kau tidak memandangku.” Katanya sedikit malu.

“Saat aku tidak memandangmu? Lalu, bagaimana bisa fotoku sangat jelas dan itu menampakkan semua mukaku? Dan, sepertinya aku terlihat memandangmu.” Kataku bingung.

“Ehm… mungkin… karena aku mengambil di sisi yang tepat? Entahlah. Aku pun tak tahu.” Katanya lalu menundukkan kepalanya.

Aku meraih dagunya dengan tangan kananku. Aku mengecup bibirnya lembut.

Cukup lama kami dengan posisi seperti ini. Yu Ra juga tidak berontak saat aku melakukannya. Ia tidak memberontak, maupun membalas. Ia hanya diam saja. Tapi, aku tak peduli dia akan berontak, karena aku akan tetap memaksanya. Haha

Aku melepaskan bibirku dari bibirnya.

Aku dapat melihat mukanya yang memerah karena perilakuku.

“Hm. Sekarang, aku mengerti maksud motto ‘My Camera, My Privation’.” Kataku sambil tersenyum lalu merangkul bahunya.

“Karena kau memutuskan untuk terjatuh dalam perangkapku. Kau tak akan bisa terlepas dariku mulai sekarang karena aku akan mengikatmu di sampingku untuk selamanya. Dan…” Kataku sengaja menggantungkan perkataanku. Dia pun menatapku penasaran karena aku menggantungkan kata-kataku.

“Namamu akan menjadi Cho Yu Ra suatu hari kelak hingga selamanya.” Kataku lalu memeluk tubuhnya.

= THE END =

1 kata: HANCUR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! XDDDDDDDDDD
*nyanyi lagunya olga* *eh?
ROFL~
Gak nge feel banget ff ini. -__- hadeuh… muter2 aja mah ini ff nya. XD
Cast:
  •  Hae Yu Ra (Me) -_-
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Hye Na (Tia)
  • Choi Siwon (Super Junior)
  • Choi Ji Yoo (Amesa)
  • Lee Donghae (Super Junior)
itulah cerita gaje bin abal sodara2... maaf kalo tidak memuaskan...
soalnya saya dipaksa. T~T *dihajar tia ama mesa*
xP
silahkan menikmati. -_- (?)
Do Not Take This W/out My Permission And Don't Claim This As Yours

Labels:





Saturday, June 11, 2011 9:10 PM


7 Days 7 Letters

Author’s POV

“Aku menyayangimu Na Ya~.” Kata seorang namja yang sedang tersenyum kepada seorang gadis.

“A… Aku juga sayang Siwon Oppa.” Kata gadis itu yang diyakini bernama Hye Na.

“Kalau begitu janji, ya, kita akan terus bersama selamanya. Dan kau hanya akan menjadi milikku.” Kata namja yang bernama Choi Siwon itu lalu mengecup bibir Hye Na sekilas yang membuat pipi Hye Na memerah.

Waktu demi waktu pun bergulir setelah kejadian itu. Dan, tiba-tiba saja namja itu menghilang. Dan, dengan seiring waktu, perlahan-lahan aku mulai melupakannya.

= 12 Years Ago =

Hye Na’s POV

“A… Aku suka padamu. Ma… Maukah kau menjadi pacarku?” Kataku takut-takut.

“Huh? Berpacaran denganmu? Apa kau sedang bercanda?” Kata seorang namja yang berada di depanku.

“Eh?”

“SAMA CEWEK SEGEDE KAMU? MANA MUNGKIN ADA COWOK YANG MAU! BERDIRI SEBELAHAN SAJA SUDAH MALAS!” Kata namja itu lagi.

JDER! Bagaikan ada petir yang sedang menyambarku saat ini.

Aku menundukkan kepalaku dengan lesu.

Tapi, ia memang benar… tinggiku memang kelewatan.

Apakah kalian ingin tahu berapa tinggiku? Aku agak sedikit tersinggung jika membicarakan soal tinggi. Tapi, akan kusebutkan. Tinggiku 170 cm untuk umurku yang baru 15 tahun ini. Tinggi yang kelewatan, eh?

Tinggiku ini sangat berguna saat pelajaran olahraga. Dan juga, ada yang sempat bilang aku cocok menjadi model saat besar nanti. Tapi, tentu saja ada kekurangan dibalik keberuntungan itu.

Seperti yang kalian lihat tadi. Aku tak bisa mendapatkan pacar. Ini sudah ke 25x nya aku menembak seseorang dan selalu ditolak. Dan, alasan mereka sama. Karena tinggi badanku yang kelewatan. Dan, sialnya lagi… KENAPA AKU MENYUKAI NAMJA YANG SEMUA TINGGINYA DI BAWAHKU?

Aku mengacak-ngacak rambutku kesal.

Ah, tunggu. Apakah aku belum memperkenalkan siapa namaku?

Namaku Kim Hye Na. Semua anak berkata aku adalah anak yang alim. Tapi, kurasa mereka salah. Karena, menurut perkiraanku dan penelitianku, memang mereka saja yang malas melaksanakan tugas sesuai dengan agamanya masing-masing.

Ah, tentang perkenalanku sekarang tidak penting. Aku harus memikirkan bagaimana caranya memiliki pacar. Ini sudah ke-25x nya aku menembak namja, dan ke-25x nya aku ditolak oleh mereka.

Selama aku sedang berpikir, tiba-tiba seseorang mengagetkanku dan langsung merangkulku.

“Yak! Kau sedang melamun ya?” Kata seseorang yang merangkulku.

Aku menoleh dan melihat sahabat dekatku yang kukenal sejak tingkat 1 di Junior High School.

“Hah~ Tidak. Hanya sedang berpikir. Dan, tumben sekali kau tidak sedang bersama Kyuhyun oppa, Yu Ra? Ada apa?” Kataku dengan sahabatku yang bernama Yu Ra itu.

“Kemarin Kyuhyun sedang tugas kelompok dengan temannya. Ugh, aku sebal dengannya. Ia mengacuhkanku begitu saja. Aku mematikan telponku agar ia tak bisa menghubungiku. Tapi, walau begitu, mana mungkin dia menelponku. Namja babo. CHO KYUHYUN BABO!” Katanya berteriak kesal.

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sahabatku ini, walau dia berteriak dan selalu bertengkar dengan namja bernama Cho Kyuhyun yang sudah menjadi pacarnya sejak 1 tahun yang lalu, sebenarnya ia sangat mencintai Kyuhyun dan selalu memperhatikannya dari jauh. Begitu juga sebaliknya. Mereka hanya gengsi mengakui perasaan mereka satu sama lain.

Tiba-tiba saja ada seseorang menghampiri kami dan menjitak kepala Yu Ra.

“Kau bilang apa tadi Hae Yu Ra? Aku babo? Yak! Harusnya aku yang bilang begitu padamu. Aku kemarin mengsmsmu. Bahkan, menelponmu. Tapi, kau tak merespon apapun. Aku kan hanya mengerjakan tugas dengan teman-temanku. Dan tidak hanya yeoja saja. Tapi ada namja juga. Dan, asal kau tahu. Yeoja-yeoja yang sekelompok denganku, kebetulan sekelompok dengan pacarnya juga. Aish, aku kesal sekali dengan mereka.” Kata orang yang bernama Kyuhyun itu.

Yu Ra sedikit terkesiap mendengarnya. Tapi, dia berusaha mengontrol ekspersinya itu. Aku tahu jelas sikap sahabat dekatku ini.

“Aku tak peduli.” Kata Yu Ra sambil tetap mengacuhkan Kyuhyun dan menolehkan kepalanya agar tak melihat Kyuhyun.

Kyuhyun masih berusaha menjelaskannya. Sampai-sampai dia memeluk Yu Ra dari belakang. Yu Ra agak terkesiap, karena, jarang-jarang Kyuhyun mau melakukan kontak fisik dengannya. Mungkin Kyuhyun bersikap begitu karena kemarin ia sekelompok dengan teman-temannya yang saling berpacaran itu. Dan mungkin ia iri melihat teman-temannya yang bermesraan itu.

Mereka masih saja bertengkar di depanku. Tapi, mereka malah terlihat seperti bermesraan.

“Yak! Kalian ini kan berpacaran. Berhentilah berteriak dan membuat kupingku tuli. Dan, asal kalian tahu, kalian bermesraan di depan orang yang sedang merana. Tidak sopan sekali.” Kataku menengahi pertengkaran mereka.

Mereka berhenti bertengkar dan menoleh menatapku. Yu Ra mungkin tak menyadari Kyuhyun masih memeluknya dari belakang, sehingga ia membiarkannya.

“Apa maksudmu sedang merana?” Kata Yu Ra

“Hufh… Kau kan tahu, aku tak punya pacar. Hey! Dan lihatlah. Kalian sekarang malah bermesraan di depanku. Huh! Makin membuatku merana saja.” Kataku cemburu melihat mereka berdua.

“Hah?” Kata mereka berdua bersamaan lalu menolehkan kepala masing-masing.

Mereka terkejut dengan posisi mereka sekarang. Dan saat itu juga, mereka saling menjauhkan diri. Aku hanya terkekeh melihat kelakuan mereka berdua.

“Yak! Kau mau ambil kesempatan ya?” Kata Yu Ra berteriak.

“Mwo? Harusnya aku yang bilang begitu kepadamu. Aku tak bernafsu denganmu.” Kata Kyuhyun membalas perkataan Yu Ra.

Jika kalian tidak mengetahui sikap mereka dengan baik, kalian pasti akan merasa heran kenapa mereka bisa menjadi sepasang kekasih.

“STOP! Berhentilah berusaha membuat kupingku tuli.” Kataku menengahi pertengkaran mereka lagi. Hanya karena masalah sepele seperti itu saja mereka sudah bertengkar. Bukankah sudah sepantasnya jika sepasang kekasih bersikap begitu? Mereka memang pasangan aneh. Huff

Mereka terdiam melihat wajah meranaku lagi.

“Kalau kau tidak punya pacar, kenapa kau tidak mencarinya?” Kata Kyuhyun akhirnya.

Aku mendengus mendengar perkataannya.

“Asal kau tahu, aku sudah berusaha mencari, dan tidak ada yang mau denganku karena tinggiku.” Kataku sambil berusaha menahan tangis.

“Yak! Kau ini tidak berperasaan sama sekali Kyuhyun! Masa kau tidak tahu jika ia sudah berusaha mencari pacar?” Kata Yu Ra sambil mengusap punggungku.

“Yak! Mana ku tahu. Aku saja baru tahu tadi.” Kata Kyuhyun sewot.

Yu Ra tak membalas perkataannya karena lebih memikirkan perasaanku yang sedang labil saat ini.

“Sudahlah. Suatu hari kau pasti akan menemukan takdirmu, percayalah padaku.” Kata Yu Ra sambil menenangkanku.

Aku hanya mengangguk dan kami pun pulang.

***

2 Days Ago

Aku sedang berjalan keluar rumahku dengan riang untuk pergi ke sekolah. Karena kemarin adalah hari minggu, Yu Ra mengajakku jalan-jalan berdua hanya dengannya tanpa mengajak Kyuhyun karena ia tahu perasaanku sedang labil. Dia memang sahabat paling pengertian.

Aku sudah mulai bisa melupakan tentang hal bodoh itu. Untuk memiliki pacar. Lebih baik aku tidak usah mencari cinta. Biarkanlah cinta yang mencariku.

Saat aku sudah menutup pintu pagar, aku terheran-heran melihat surat yang berada di kotak surat rumahku. Jarang-jarang ada surat atau kiriman paket dikirim ke rumahku.

Aku melihat surat itu. Surat itu berwarna putih dan sangat rapi. Aku semakin heran saat melihat ada tulisan CS berwarna biru muda dengan ukiran yang sangat indah di depan surat itu.

Aku membuka surat itu. Di dalamnya tertulis.

To: Kim Hye Na

Hari ini, akhirnya aku melihatmu lagi, senyummu, dan juga wajahmu. Aku berharap kau tahu siapa aku tanpa aku harus menyebutkan namaku, my lady.

CS

Aku semakin heran saat mengetahui surat itu ditujukkan untukku.

Aku berjalan perlahan menuju sekolah sambil meneliti surat itu.

“Apakah Kyuhyun dan Yu Ra sedang mengerjaiku? Tapi, ditilik dari sikap mereka, mana mungkin mereka mengetahui kata-kata romantis seperti ini. Dan, siapa itu CS? Setahuku tidak ada seseorang berinisial CS di kelasku?” Pikirku.

Aku mengedikkan bahuku tak peduli. Mungkin hanya orang iseng yang sedang mengerjaiku. Nanti juga ia bosan jika aku tak memperdulikannya.

Tapi, rasa penasaran masih tetap mengelitikku walau aku berusaha mengacuhkannya.

***
Tomorrow

“Ige Mwoya?” Kataku karena melihat surat yang sama seperti kemarin tergeletak di kotak surat rumahku lagi.

Aku kembali membuka surat itu dan membacanya sambil berjalan.


To: Kim Hye Na

My Lady, apakah kau tak mengingatku? Aku berharap banyak jika kau mengingatku. Aku agak sedikit kecewa saat melihatmu seperti mengacuhkan suratku yang kemarin. Apakah benar kau sudah melupakanku?

CS

Aku terkesiap melihat isi surat itu. Bagaimana dia bisa tahu jika aku mengacuhkan suratnya yang kemarin?

Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan untuk melihat apakah ada yang membuntutiku atau tidak.

Dan aku menyerah, tidak ada satu orang pun yang mencurigakan yang kulihat dari sorot mataku.

Aku memutuskan untuk bertanya kepada Yu Ra dan Kyuhyun hari ini.

***
“Yu Ra-ah~” Kataku memanggil Yu Ra yang sedang berada di kelasnya.

Yu Ra yang sedang membereskan peralatan sekolahnya untuk dimasukkan ke dalam tas pun menoleh mendengar namanya dipanggil.

“Ah, Hye Na-ah~ wae? Tumben kau ke kelasku.” Katanya sambil tersenyum.

Ini semakin aneh, jika ia bersikap begitu, berarti ia tak tahu tentang surat ini.

“Ehm… ani… aku hanya ingin berbicara dengan kau dan Kyuhyun hari ini. Otte?”

“Eh? Hm. Aku tidak tahu hari ini Kyuhyun ada tugas atau tidak. Kalau aku sih bebas hari ini. Ayo kita ke kelasnya untuk menanyakannya.” Kata Yu Ra lalu merangkulku menuju kelas Kyuhyun.

Dan, apakah aku belum bilang lagi? Kyuhyun adalah sunbae kami, ia lebih tinggi 1 tingkat dari kami. Itu mengapa aku memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Tapi Yu Ra menolak habis-habisan untuk memanggil Kyuhyun dengan sebutan ‘oppa’. Katanya, sebutan itu terlalu bagus untuknya. Aneh sekali dia.

***
Kami berdua pun sampai di depan kelas Kyuhyun.

“Sedang apa kalian berdua disini?” Kata seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari belakang kami.

Kami berdua segera menolehkan kepala kami.

“Huh, aku tidak akan repot-repot mencarimu ke kelas ini jika bukan karena Hye Na yang mencarimu.” Kata Yu Ra sambil mendengus.

Kyuhyun mengacuhkan 12 kata pertama yang diucapkan Yu Ra. Dia menoleh melihatku.

“Ada apa kau mencariku?” Kata Kyuhyun oppa.

“Eung… Itu… Apakah… Oppa dan Hye Na sedang mengerjaiku dengan menulis surat aneh yang berada di kotak surat rumahku dan menggunakan inisial CS?” Kataku bertanya kepada mereka berdua.

Mata mereka berdua membulat.

“Hah? Aku tak pernah menulis surat untukmu. Sms sih iya. Tapi, surat tidak. Dan, aku saja baru tahu jika kau memperoleh surat seperti itu.” Kata Yu Ra.

“Aku juga. Aku tak pernah menulis surat dan menggunakan inisial seperti itu.” Kata Kyuhyun oppa.

Dilihat dari ekspresi dan gerak-gerik mereka, mereka seperti orang yang benar-benar tidak tahu tentang apa yang baru saja kuucapkan.

Aku pun hanya mendengus.

Kalau bukan mereka, lalu siapa yang mengirimkan surat aneh dan menggunakan inisial CS itu?

***

Tomorrow

Dan, lagi-lagi hari ini surat aneh itu tergeletak di kotak surat rumahku.

Dengan rasa penasaran yang menggelitik, aku membuka surat itu untuk yang ke-3 kalinya.

To: Kim Hye Na

Hahaha… Apakah kau sekarang penasaran denganku, My Lady? Tenang saja. Aku bukan orang iseng yang sengaja menulis surat yang menurutmu aneh ini untuk mengerjaimu. Aku menulis surat ini dengan tulus karena aku mencintaimu.

CS

Mataku membulat.

Apa? Apa tadi yang tertulis di surat itu? KARENA AKU MENCINTAIMU? HAH? Apakah orang ini sudah gila? Aku bahkan belum mengenalnya sama sekali.

***

Dan, hari demi hari pun terlewati, dan surat itu selalu datang setiap harinya.

To: Kim Hye Na

Hey, My Lady. Aku rasa kemarin kau benar-benar terkejut karena kau mendengar seseorang mencintaimu tetapi bahkan kau tidak tahu siapa itu. Hahaha
Hari ini cuacanya cerah sekali bukan, My Lady? Secerah dirimu yang memancarkan sinar yang begitu silau setiap harinya. Hahaha
Aku tidak sedang menggombal. Itu memang kenyataan. ;)

CS

To: Kim Hye Na

Apakah kau masih penasaran siapa aku? Baiklah. Aku akan memberimu 3 clue. Aku hanya akan memberikan 1 clue di setiap suratku.
Baiklah. Clue pertama adalah “Kita akan terus bersama selamanya.”

CS

Aku menatap bingung surat yang kubaca.

Clue apa itu? ‘Kita akan terus bersama selamanya?’ Huh?

Aku masih bingung dengan clue pertamanya. Tak apalah. Mungkin aku bisa mengetahuinya setelah aku mendapat 2 clue lagi. Tapi, tetap saja rasa penasaran terus menggelitikku karena clue pertama yang diberikannya.


To: Kim Hye Na

Apakah kau masih bingung? Hm. Baiklah. Ini adalah clue kedua “Kau hanya akan menjadi milikku.”

CS

Dan aku kembali menatap bingung surat yang kubaca sekarang. Apa itu? 'Kau hanya akan menjadi milikku?' Orang ini sudah gila sepertinya. Tapi, kenapa ada rasa nyaman dan aman saat membaca surat-surat darinya? Dan juga ada perasaan membuncah ingin tahu siapa yang menulisnya.

Aish! Aku sudah gila sepertinya.

"Sudahlah. Toh, masih ada 1 clue lagi." Kataku dalam hati.

To: Kim Hye Na

Clue terakhir adalah... "Aku menyayangimu Na Ya~"
Ah ya... dan selain clue terakhir ini, ini juga akan menjadi surat terakhir dariku untukmu. Aku rasa kau cukup terganggu dengan surat-surat anehku. Dan, kurasa aku tidak cukup gentelman karena hanya mengungkapkan perasaanku lewat surat saja.
Terima kasih sudah mau membaca suratku selama ini dan selalu menerima gangguan dariku. Saranghae, Yeongwonhi.

CS


Aku terkesiap melihat clue terakhir darinya.

Tiba-tiba saja kenangan masa kecilku berkelebat di dalam pikiranku.

*Flashback* 

“Aku menyayangimu Na Ya~.” Kata seorang namja yang sedang tersenyum kepada seorang gadis.

“A… Aku juga sayang Siwon Oppa.” Kata gadis itu yang diyakini bernama Hye Na.

“Kalau begitu janji, ya, kita akan terus bersama selamanya. Dan kau hanya akan menjadi milikku.” Kata namja yang bernama Choi Siwon

Waktu demi waktu pun bergulir setelah kejadian itu. Dan, tiba-tiba saja namja itu menghilang. Dan, dengan seiring waktu, perlahan-lahan aku mulai melupakannya.

*End Of Flashback*

Dan dalam seketika aku tersentak.

Benarkah... benarkah ini dia?

Aku masih menatap surat ini tak percaya.

Setelah ia menghilang dan pergi ke luar negeri begitu saja dengan orang tua nya, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi. Aku terus menangis seharian saat tau dia pindah ke luar negeri.

Sekarang, aku sudah tahu siapa yang menulis surat ini.

Dia... pasti dia... Ya, Siwon oppa. Aku baru menyadari saat itu bahwa marga Siwon oppa adalah Choi. Aigoo~

Aku harus segera mencarinya sesegera mungkin. Tapi dimana? Aish!

Aku kembali membaca surat itu dan kembali tersentak.

Jantungku terasa berhenti berdetak saat itu juga. 'Saranghae, Yeongwonhi'. Hanya karena 2 kata itu aku bahkan hampir pingsan.

Aku terus memikirkan cara agar dapat bertemu dengannya. Dulu, ia tetanggaku. Sekarang aku tidak tahu dia tinggal dimana. Mana mungkin aku memutari kota Seoul yang luas ini.

Aku kembali tersentak untuk ketiga kalinya. Aku baru menyadari tulisan itu. Ini... ini adalah surat terakhirnya? Ottokhe???

Aku merasa ia tak pernah menggangguku karena surat-surat darinya. Bahkan, aku senang dan merasa nyaman saat menerima surat darinya.

Dan juga... jika ia tidak mengirimkan surat untukku lagi, kesempatanku untuk bertemu dengannya akan semakin kecil.

Aku hanya menundukkan kepalaku dan berpikir keras bagaimana cara agar dapat bertemu dengannya.

***
Kepalaku agak sedikit pusing. Aku tidak tidur hanya karena memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Tuan Choi Siwon itu. Aish!

Tiba-tiba saja ada yang merangkulku dari belakang.

“Yak! Bagaimana? Apakah kau tahu siapa yang menulis surat aneh itu?” Kata Yu Ra yang ternyata merangkulku.

Aku menatapnya dan mengangguk pelan.

“WOAH! BENARKAH? SIAPA DIA?” Kata Yu Ra karena sangat penasaran dengan namja yang menulis surat aneh yang berkata bahwa ia mencintaiku.

“Ehm… Dia… Teman sejak kecilku.” Kataku pelan.

“WOAH! Benar-benar seperti novel, fanfic, dan komik. Suatu saat kalian akan bertemu lagi dan pada akhirnya takdir akan mempersatukan kalian. Lalu setelah itu kalian hidup bahagia selamanya.” Kata Yu Ra dengan segenap perasaannya.

Aku menjitak kepalanya.

“Yak! Kau ini kebanyakan baca-bacaan seperti itu. Perbanyaklah membaca buku pelajaran. Aku tahu kau pintar. Tapi, jika karena kau membaca novel, fanfic, dan komik member sifat negative seperti ini, aku akan menyita laptop beserta novel dan komikmu.” Kataku.

Dia memanyunkan bibirnya.

“Kau tahu kan, devinisi hidup ke-2 adalah laptop dan hp ku. Dan, devinisi hidup ke-3 ku adalah novel dan komikku. Apa kau ingin membuatku mati, hah?” Katanya mendengus marah.

“Setidaknya aku tidak mengambil devinisi hidup ke-1 mu.” Kataku santai.

Dia menatapku bingung.

“Hah? Aku bahkan belum pernah menyebutkan devisini hidupku yang ke-1 itu apa atau siapa. Bagaimana kau bisa tahu?” Katanya dengan tampang polos.

Aku ingin sekali tertawa terbahak-bahak di depannya.

“Yah… Tentu saja aku tahu. Dari mukamu saja sudah keliatan, babo.” Kataku.

“Bukankah devisini hidupmu yang ke-1 itu adalah Cho Kyuhyun oppa-mu tersayang itu?” Lanjutku yang berbisik di telinganya.

Mukanya langsung merah padam.

“Yak! Aku tak bilang bahwa devinisi hidupku yang ke-1 adalah namja babo itu!” Katanya dengan kesal tapi masih dengan muka merah padam.

Aku sekarang tak tahan untuk tak tertawa melihat sikapnya itu.

Dia menggembungkan pipinya dan aku mencubitnya karena ia terlihat sangat lucu saat marah. Haha Sahabat apa aku ini? LOL

Itulah mengapa Yu Ra selalu membuatku bersemangat dan melupakan hal-hal yang memberatkanku. Karena, ia selalu berhasil membuatku tertawa karena sifat polos dan anehnya itu.

Hah~ Tapi aku masih harus tetap memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Siwon Oppa. Huff

Aku merasa di gerbang sekolah agak sedikit ramai. Sebenarnya ada apa?

Ah… peduli apa tentang itu. Kepalaku pusing dan aku ingin cepat-cepat merebahkan kepalaku ke atas mejaku. Aku pun segera menarik Yu Ra yang ingin melihat apa yang terjadi di gerbang sekolah kami.

***
Kyuhyun’s POV

“Mwoya? Kenapa kau menyalahkanku? Aku kan memang sedang mengerjakan tugas kelompok. Aish. Arasseo arasseo. Kau sedang bersama Hye Na di kantin kan? Ara. Aku akan segera kesana.” Kataku dengan segera menutup telponku sebelum Yu Ra melanjutkan omelannya. Padahal kan aku sudah memberi tahunya bahwa aku ada tugas kelompok hari ini.

Aku segera berlari, bergegas menuju kantin.

“Cho Kyuhyun shi~.” Tiba-tiba saja ada suara berat yang memanggilku.

Aku pun menolehkan kepalaku untuk melihat siapa yang memanggilku.

“Ne?” Kataku merespon kata-katanya.

“Ehm… Itu… aku hanya ingin bertanya. Apakah, ‘Hye Na’ yang kau sebutkan itu adalah seorang yeoja bernama ‘Kim Hye Na’?” Katanya bertanya kepadaku.

Aku mengerutkan keningku.

“Ah, mianhamnida. Kurasa kau sedang terburu-buru, sehingga… aku memutuskan untuk langsung menanyakan apa yang ingin kutanyakan.” Katanya merasa mengerti apa yang ada di pikiranku.

“Ah. Ne. Gwenchana. Ehm… ne… ‘Hye Na’ yang kumaksud pada saat di telepon tadi adalah ‘Kim Hye Na’. Waeyo? Apakah kau mengenalnya?” Kataku bertanya balik kepadanya.

“Ah, ani… tapi… bisakah aku ikut bersamamu pergi ke kantin?” Katanya ragu-ragu.

Aku menatapnya.

“Hm… baiklah. Ayo kita ke kantin bersama-sama.” Kataku sambil mengajaknya.

Kami berdua pun pergi ke kantin sambil berbincang-bincang sebentar.

***
Hye Na’s POV

Aku sedang memakan makananku di kantin bersama Yu Ra. Kyuhyun bilang dia masih mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya.

Aku menatap Yu Ra yang sibuk memencet-mencet hp-nya dengan wajah geram. Ah, mungkin dia tidak sabaran untuk melihat wajah raja setannya itu. Kau tahu? Saat Kyuhyun sakit, Hye Na disekolah seperti mayat hidup yang sangat lesu saat tidak ada Kyuhyun. Begitu juga sebaliknya. Begitulah orang gila yang sedang jatuh cinta.

“Yak! Cho Kyuhyun! Dimana kau? Kenapa lama sekali? Apakah kau masih punya alasan lain selain mengerjakan tugas kelompok bersama temanmu itu, Hah? Cepat kesini!” Kata Yu Ra terdengar seperti memerintah.

Aku hanya terkekeh pelan melihat tingkahnya itu dan kembali melanjutkan makanku.

Tak berapa lama kemudian pun Kyuhyun datang dan langsung duduk di sebelah Yu Ra.

Yu Ra memalingkan wajahnya berpura-pura marah kepada Kyuhyun.

“Yak! Hae Yu Ra. Aku kan jujur padamu. Aku benar-benar mengerjakan tugas kelompok bersama temanku.” Katanya sambil menyenggol-nyenggol bahu Yu Ra.

Yu Ra mendengus dan menatap Kyuhyun.

“Kau memang jujur kepadaku Kyuhyun. Tapi, tidak adakah alasan lain selain itu? Aku sudah bosan mendengarnya.” Kata Yu Ra

“Huh, kalau aku bohong kepadamu, kau pasti akan membunuhku. Kau itu aneh. Jujur salah, bohong juga salah.” Kata Kyuhyun menggerutu.

Yu Ra pun terdiam karena aku tahu ucapan Kyuhyun itu benar.

“Sudahlah. Kenapa kalian harus bertengkar terus, sih? Apakah kalian tidak mempunyai pekerjaan lain sambil bertengkar?” Kataku sambil menatap mereka dan melanjutkan acara makanku.

“Ah! Benar juga. Daripada aku bertengkar dengan namja babo ini. Lebih baik aku mencari pekerjaan lain.” Kata Yu Ra yang sedetik kemudian mendapat jitakan dari Kyuhyun.

Aku hanya terkekeh.

“Hm, eh, oppa. Apakah kau tahu kenapa tadi saat kami berdua masuk sekolah gerbang sekolah sangat ramai. Apakah kau tahu kenapa?” Kataku agar mereka tidak melanjutkan pertengkaran mereka lagi.

Kyuhyun dan Yu Ra menoleh ke arahku.

“Hah? Itu. Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin karena murid baru yang menempati kelas yang sama denganku?” Kata Kyuhyun tiba-tiba.

Aku dan Yu Ra terperangah.

“Jinja oppa? Bagaimana wajahnya? Apakah dia tampan? Pasti sangat tampan karena waktu di gerbang sekolah banyak sekali yeoja-yeoja yang histeris begitu.” Kata Yu Ra menggebu-gebu dan kembali mendapat jitakan dari Kyuhyun. Yu Ra pun meringis.

“Yak! Kenapa kau menjitakku lagi, hah?” Kata Yu Ra memprotes.

“Apakah kau tidak punya sopan santun sehingga berbicara seperti itu di depan kekasihmu sendiri?” Kata Kyuhyun ketus.

Aish! Mereka mulai lagi. Entah sudah berapa kali aku memperingatkan mereka agar tidak bertengkar sejak pertama kali bertemu mereka. 100 kali? Ani. 1000 kali ada mungkin. Hah~

“Kalian berdua, berhentilah bertengkar. Dan, siapa namja yang sekarang menempati kelasmu itu, oppa?” Kataku berusaha mengalihkan pertengkaran mereka dengan topic pembicaraan kami.

“Ah… namanya…”

“Mianhae, Kyuhyun shi~ Antriannya sangat panjang tadi.” Kata seseorang yang tiba-tiba saja datang dan memotong perkataan Kyuhyun oppa.

Kami bertiga mendongak untuk melihat siapa yang mempunyai suara itu.

DEG! Aigoo... dia… DIA TAMPAN SEKALI!!! KYA!!! Astaga astaga. Aku mulai gila setelah melihat wajahnya barusan. Dan yang paling penting adalah. DIA LEBIH TINGGI DARIKU. Kutegaskan sekali lagi. DIA LEBIH TINGGI DARIKU. Jika dikira-kira, saat aku berdiri disebelahnya, mungkin saja aku hanya se-kupingnya. Atau sebahunya? Entahlah. Tapi, tunggu… kenapa wajahnya terasa sangat familiar?

Aku hanya terperangah melihat wajah namja yang berada di depanku saat ini.

“Ah… kau panjang umur Siwon shi. Dan, Hye Na. Ini teman baruku yang juga menempati kelas yang sama denganku. Namanya Choi Siwon.” Kata Kyuhyun membuyarkanku dari lamunanku.

Aku menolehkan kepalaku menatap Kyuhyun. Aku yakin aku tidak tuli karena pertengkaran konyol mereka karena sebelum namja yang berada di hadapanku ini datang pendengaranku baik-baik saja.

“Annyeonghaseyo. Jeouneun Choi Siwon imnida. Aku teman sekelas Kyuhyun.” Kata namja itu tiba-tiba.

Aku benar-benar merasa aku tidak salah dengar sekarang.

Aku kembali menatap namja itu dengan marah, tapi ekspresinya biasa-biasa saja.

Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan menarik namja yang bernama Choi Siwon itu ke atap sekolah. Dia hanya diam saja dan mengikutiku.

Setelah kami sampai disana. Aku menatapnya tajam. Kami terdiam cukup lama.

“Kenapa oppa pergi tiba-tiba saat dulu? Kenapa oppa meninggalkanku? Kenapa oppa mengirimkanku surat-surat aneh? JAWAB OPPA! KENAPA KAU HANYA DIAM SAJA?” Aku meracau tidak jelas sambil berusaha menahan isakan tangisku.

“DAN KENAPA KAU TIBA-TIBA MUNCUL DIHADAPANKU BEGITU SAJA SETELAH 12 TAHUN BERLALU? KEN…”

Aku terkesiap saat tiba-tiba saja Siwon Oppa menarikku kepelukannya dan menciumku dengan lembut.

Setelah beberapa saat, ia melepaskan ciuman dan pelukannya.

Aku sudah tidak bisa berpikir dengan jelas sekarang. Aku sedikit terhuyung tapi dengan segera ia memelukku lagi.

“Kau tahu? Saat aku memelukmu seperti ini, kau seperti akan berada di dalam dekapanku untuk selamanya.” Katanya tiba-tiba.

Ia melepaskan pelukannya dan menarikku untuk duduk dan menyender di dinding.

Aku hanya diam sambil terus menatapnya dan mengagumi wajahnya yang 100 persen. Ah… ani… 1000 persen (atau lebih?) lebih tampan saat dia masih kecil.

Dia menghembuskan nafasnya dan menatapku.

“Kau pasti bingung kan, kenapa aku pergi tiba-tiba dan datang tiba-tiba juga lalu mengatakan bahwa aku mencintaimu dan ingin kau selalu berada di dekapanku selamanya?” Katanya sambil menengadahkan kepalanya menatap langit.

Aku hanya diam saja.

“Baiklah… Daripada aku terus membuatmu bingung. Lebih baik aku menjelaskannya.” Katanya.

“Eomma dan appa memutuskan untuk pindah ke London saat aku masih kecil dan aku juga harus pergi bersama mereka kesana. Sebenarnya aku sangat ingin berbicara tentang kepindahanku ini kepadamu, tapi eomma sudah menarikku duluan ke dalam mobil lalu menuju bandara tanpa menanyakan pendapatku.”

“Dan… saat ini, eomma dan appa memutuskan untuk pindah kembali ke Korea. Kami pindah ke rumah baru, tetapi, aku sempat mendatangi rumahmu yang dulu. Dan, ternyata kau sudah pindah ke tempat yang baru.”

“Dan, pada akhirnya aku mendapatkan alamat rumah barumu setelah berusaha mencarinya. Aku memutuskan agar tidak menemuimu dan hanya menuliskan surat-surat aneh yang selalu mengganggumu setiap harinya. Bukankah aku bisa dibilang seorang pengecut, eh?”

Aku hanya diam dan berkonsentrasi mendengarkan kata demi kata yang diucapkannya.

“Aku juga tahu bahwa kau akan meledak jika melihatku berada di depanmu. Tapi, aku berusaha untuk tidak menjadi seorang pengecut yang hanya bisa menuliskan perasaanku di atas kertas. Sehingga, aku memutuskan untuk berada di sekolah yang sama denganmu.”

Perkataannya membuatku kembali terkesiap sangit takjubnya.

“Jadi, apakah kau masih marah padaku karena aku sudah bersikap seperti itu selama ini terhadapmu?” Katanya sambil bertanya kepadaku.

Aku cemberut.

“Aku tidak marah padamu oppa. Hanya sedikit kesal saja.” Kataku sambil menggembungkan pipiku.

Dia mencubit pipiku pelan.

“Kau ini tidak berubah. Itu sama saja tahu.” Kata Siwon oppa.

“Oh ya, kalau aku bilang aku mencintaimu, aku mengatakannya tulus dari lubuk hatiku.” Lanjutnya.

Aku kembali mematung dan dia hanya terkekeh melihat ekspresiku yang seperti itu.

“Kau tidak sedang bercanda kan oppa?” Kataku setelah mendapatkan setengah kesaranku kembali.

“Tidak. Untuk apa aku bercanda, Na Ya~?” Katanya lalu mengecup keningku.

“Tapi, bagaimana bisa?” Kataku.

“Aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Sejak kecil.” Katanya sambil tersenyum.

Dia kembali memelukku.

“Kita akan terus bersama selamanya. Dan kau hanya akan menjadi milikku.”

***
5 Years Ago

Aku duduk di kursi panjang sambil menyandarkan kepalaku di bahu seorang namja yang sangat kucintai.

Kami sedang menikmati angin pantai di belakang rumah kami berdua. Yah~ rumah kami sengaja dibuat berada di dekat pantai. Siwon oppa sangat mengidam-idamkan rumah yang berada di dekat pantai.

Setelah ia lulus kuliah, Siwon oppa mengajakku menikah dan aku dilarang menolaknya dengan alasan apapun. Tapi, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolaknya. Hanya saja, aku masih kuliah. Tapi, sepertinya tidak apa-apa jika Siwon oppa tidak melakukan apa-apa terhadapku selama aku belum menyelesaikan kuliahku.

Suasana di sekitarku sangat nyaman, aman dan damai. Saat sebuah suara menghancurkannya.

“Ckckck… kalian terlalu romantis. Aku jijik melihat kalian seperti itu.” Kata suara berat dibelakang kami.

Kami berdua menoleh dan melihat ratu iblis dan raja setan sedang berada di hadapan kami.

Kyuhyun berdecak melihat kami dan Yu Ra sudah memasang wajah ekspresi ingin muntahnya itu. Padahal, mereka berdua sudah menikah. Bahkan mereka menikah lebih cepat dariku dan Siwon oppa.

Mereka memang tidak berubah, tetap saja kekanak-kanakan. Bedanya sih, sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami istri, dan Kyuhyun oppa menjadi sering menyentuh Yu Ra yang sensitif jika disentuh. Kyuhyun oppa sangat sering memeluk Yu Ra dari belakang dan Yu Ra selalu berteriak jika ia melakukannya. Mereka lucu sekali jika itu terjadi. Haha

“Kalau kalian tidak suka melihat adegan kami, kenapa kalian tidak pergi saja dan menjauh dari kami?” Kata Siwon oppa sambil berdecak.

Kyuhyun oppa berdecak juga dan Yu Ra hanya tertawa melihat Siwon oppa dan Kyuhyun oppa.

“Sudahlah. Jangan memulai pertengkaran lagi. Dan, hei. Kalian sudah 1 tahun menikah. Kenapa tidak punya anak?” Kataku kepada Kyuhyun oppa.

Dalam seketika itu juga, wajah Yu Ra memerah.

“Hah, bagaimana mau punya anak kalau yang akan mengandungnya bahkan tak mau melakukannya?” Kata Kyuhyun oppa.

“Yak! Aku bukan tidak ingin melakukannya. Hanya belum siap!” Kata Yu Ra membentak marah.

“Dan sampai kapan kau siap nyonya Cho? Apakah kau ingin mendengar ocehan eomma yang menurutmu sangat mengesalkan itu lagi karena kau belum siap?” Kata Kyuhyun lagi.

Yu Ra hanya memanyunkan bibirnya.

“Yak! Jika kalian hanya ingin bertengkar di depan kami, lebih baik kalian pergi. Kalian menghancurkan suasana syahdu diantara kami. Ckckck” Kata Siwon oppa.

“Huh! Kau menyebalkan hyung!” Kata Kyuhyun oppa lalu masuk ke rumahku bersama Yu Ra.

Aku hanya tersenyum melihatnya. Walau mereka itu selalu saling membentak satu sama lain, mereka saling mencintai. Aku pernah liat tatapan Kyuhyun oppa saat Yu Ra sedang tak melihatnya. Tatapannya sangat lembut dan seperti memuja. Begitu juga sebaliknya. Tapi, jika mereka sedang saling menatap. Jangan harap kalian melihat tatapan lembut diantara sesama. Yang ada, kalian akan melihat tatapan kesal dan saling ingin membunuh. Pasangan aneh, tidak ingin mengakui perasaan sendiri. Huff

“Yak! Kenapa kau tersenyum-senyum?” Kata Siwon oppa membuyarkanku dari lamunanku.

Aku kembali tersenyum sambil menyenderkan kepalaku di dada bidangnya.

“Tidak. Hanya saja, aku masih teringat perilaku pasangan aneh itu saat masih sekolah.”

Siwon oppa juga tersenyum setelah aku mengatakan itu.

“Yah~ Kurasa bahkan Kyuhyun hampir gila saat Yu Ra mengikuti studi banding selama seminggu, sehingga ia tak dapat melihatnya.” Kata Siwon oppa.

Aku tertawa kecil saat Siwon oppa mengatakan itu.

“Hey, oppa. Selain membuatku tersenyum, terkejut, dan membuatku terpesona. Apa lagi yang bisa kau lakukan?” Kataku mencoba menggodanya.

Dia menatapku dalam lalu tersenyum.

“Jika melakukan hal itu, orang lain pun bisa melakukannya. Tapi, ada 1 hal yang tak bisa orang lain lakukan dan hanya aku yang bisa melakukannya.”

“Apa itu?” Kataku sambil menatapnya bingung.

“Mencintaimu. Tidak akan ada orang yang bisa mencintaimu sebesar aku mencintaimu.”

= THE END =

ini apa? -_- halah... cacat bener lah ff ini. -__- endingnya sinting banget. -___- XD
oh iya... ini cast yang ada di ff ini: 
  • Kim Hye Na (Tia)
  • Choi Siwon (Super Junior)
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Hae Yu Ra (saya)
Do Not Take This W/out My Permission And Don't Claim This As Yours 

    Labels:





    6:34 PM


    Someone POV

    Tidak sadarkah kau jika aku mencintaimu?

    Apakah sikapku tidak cukup untuk menunjukkan bahwa aku mencintaimu?

    Apakah kau memerlukan kata “saranghae” agar kau tahu aku mencintaimu?

    Aku bukanlah seseorang yang romantis dan memanggilmu dengan panggilan “jagiya” atau panggilan lainnya yang menurutku menjijikan

    Tapi, aku tahu, tidak ada yang bisa mencintaimu sebaik diriku

    = To Be Continue =

    Jjeng… (Readers: APA INI???)
    -____-
    Ngeh… authornya pun gak tau ini apaan. XDDDDDDDDDDDDD *plak*
    Ini nih… efek kebanyakan baca ff… wakakakak
    Ini gw cuma buat prolog… kalo ada yang mau minta lanjutin gw lanjutin…
    Dan…  asal kalian tahu… gw nulis prolog ini sambil muntah2 dan hampir kesedek *lagi makan soalnya*
    XD

    Labels:





    Monday, June 6, 2011 12:44 AM



    1) LEETEUK (이특);– 이 (merit) 특 (special) → Meritly Special → Park JunSoo •♥• Dennis Park

    2) HEECHUL (희철);– 희 (hope) 철 (clear) → Hopeful → Kim HeeChul •♥• Casey Kim

    3) HANGENG (한경);– 한 (surname) 경 (age) → Heavenly Age → Tan HanGeng •♥• Joshua Tan

    4) YESUNG (예성);– 예 (art) 성 (voice) → Art-like Voice → Kim JoonWoon •♥• Jerome Kim

    5) KANGIN (강인);– 강 (strength) 인 (humaneness) → Humane Strength → Kim YoungWoon •♥• Jordan Kim

    6) SHINDONG (신동);– 신 (god)동  (child) → Prodigy → Shin DongHee •♥• Mathew Shin

    7) SUNGMIN (성민);– 성 (splendor) 민 (keen) → Sharpness → Lee SumgMin •♥• Vincent Lee

    8 )EUNHYUK (은혁);– 은 (silver)혁 (radiant) → Radiant Silver → Lee HyukJae •♥• Spencer Lee

    9) DONGHAE (동해);– 동 (east) 해 (sea) → East Sea → Lee DongHae •♥• Aiden Lee

    10) SIWON (시원);– 시 (begin) 원 (origin) → Origin → Choi SiWon •♥• Andrew Choi

    11) RYEOWOOK (려욱);– 려 (severe) 욱 (sunrise) → Powerful Sunrise → Kim RyeoWook •♥• Nathan Kim

    12) KIBUM (기범);– 기 (rise) 범 (rule) → Rising Law → Kim Kibum •♥• Byran Trevor Kim

    13) KYUHYUN (규현);– 규 (jade tablet) 현 (worthy) → Worthy Like Jade → Cho KyuHyun •♥• Marcus Cho

    cr. http://leeteukismylife.tumblr.com/

    Labels: ,