7 Days 7 Letters
Author’s POV
“Aku menyayangimu Na Ya~.” Kata seorang namja yang sedang tersenyum kepada seorang gadis.
“A… Aku juga sayang Siwon Oppa.” Kata gadis itu yang diyakini bernama Hye Na.
“Kalau begitu janji, ya, kita akan terus bersama selamanya. Dan kau hanya akan menjadi milikku.” Kata namja yang bernama Choi Siwon itu lalu mengecup bibir Hye Na sekilas yang membuat pipi Hye Na memerah.
Waktu demi waktu pun bergulir setelah kejadian itu. Dan, tiba-tiba saja namja itu menghilang. Dan, dengan seiring waktu, perlahan-lahan aku mulai melupakannya.
= 12 Years Ago =
Hye Na’s POV
“A… Aku suka padamu. Ma… Maukah kau menjadi pacarku?” Kataku takut-takut.
“Huh? Berpacaran denganmu? Apa kau sedang bercanda?” Kata seorang namja yang berada di depanku.
“Eh?”
“SAMA CEWEK SEGEDE KAMU? MANA MUNGKIN ADA COWOK YANG MAU! BERDIRI SEBELAHAN SAJA SUDAH MALAS!” Kata namja itu lagi.
JDER! Bagaikan ada petir yang sedang menyambarku saat ini.
Aku menundukkan kepalaku dengan lesu.
Tapi, ia memang benar… tinggiku memang kelewatan.
Apakah kalian ingin tahu berapa tinggiku? Aku agak sedikit tersinggung jika membicarakan soal tinggi. Tapi, akan kusebutkan. Tinggiku 170 cm untuk umurku yang baru 15 tahun ini. Tinggi yang kelewatan, eh?
Tinggiku ini sangat berguna saat pelajaran olahraga. Dan juga, ada yang sempat bilang aku cocok menjadi model saat besar nanti. Tapi, tentu saja ada kekurangan dibalik keberuntungan itu.
Seperti yang kalian lihat tadi. Aku tak bisa mendapatkan pacar. Ini sudah ke 25x nya aku menembak seseorang dan selalu ditolak. Dan, alasan mereka sama. Karena tinggi badanku yang kelewatan. Dan, sialnya lagi… KENAPA AKU MENYUKAI NAMJA YANG SEMUA TINGGINYA DI BAWAHKU?
Aku mengacak-ngacak rambutku kesal.
Ah, tunggu. Apakah aku belum memperkenalkan siapa namaku?
Namaku Kim Hye Na. Semua anak berkata aku adalah anak yang alim. Tapi, kurasa mereka salah. Karena, menurut perkiraanku dan penelitianku, memang mereka saja yang malas melaksanakan tugas sesuai dengan agamanya masing-masing.
Ah, tentang perkenalanku sekarang tidak penting. Aku harus memikirkan bagaimana caranya memiliki pacar. Ini sudah ke-25x nya aku menembak namja, dan ke-25x nya aku ditolak oleh mereka.
Selama aku sedang berpikir, tiba-tiba seseorang mengagetkanku dan langsung merangkulku.
“Yak! Kau sedang melamun ya?” Kata seseorang yang merangkulku.
Aku menoleh dan melihat sahabat dekatku yang kukenal sejak tingkat 1 di Junior High School.
“Hah~ Tidak. Hanya sedang berpikir. Dan, tumben sekali kau tidak sedang bersama Kyuhyun oppa, Yu Ra? Ada apa?” Kataku dengan sahabatku yang bernama Yu Ra itu.
“Kemarin Kyuhyun sedang tugas kelompok dengan temannya. Ugh, aku sebal dengannya. Ia mengacuhkanku begitu saja. Aku mematikan telponku agar ia tak bisa menghubungiku. Tapi, walau begitu, mana mungkin dia menelponku. Namja babo. CHO KYUHYUN BABO!” Katanya berteriak kesal.
Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya. Sahabatku ini, walau dia berteriak dan selalu bertengkar dengan namja bernama Cho Kyuhyun yang sudah menjadi pacarnya sejak 1 tahun yang lalu, sebenarnya ia sangat mencintai Kyuhyun dan selalu memperhatikannya dari jauh. Begitu juga sebaliknya. Mereka hanya gengsi mengakui perasaan mereka satu sama lain.
Tiba-tiba saja ada seseorang menghampiri kami dan menjitak kepala Yu Ra.
“Kau bilang apa tadi Hae Yu Ra? Aku babo? Yak! Harusnya aku yang bilang begitu padamu. Aku kemarin mengsmsmu. Bahkan, menelponmu. Tapi, kau tak merespon apapun. Aku kan hanya mengerjakan tugas dengan teman-temanku. Dan tidak hanya yeoja saja. Tapi ada namja juga. Dan, asal kau tahu. Yeoja-yeoja yang sekelompok denganku, kebetulan sekelompok dengan pacarnya juga. Aish, aku kesal sekali dengan mereka.” Kata orang yang bernama Kyuhyun itu.
Yu Ra sedikit terkesiap mendengarnya. Tapi, dia berusaha mengontrol ekspersinya itu. Aku tahu jelas sikap sahabat dekatku ini.
“Aku tak peduli.” Kata Yu Ra sambil tetap mengacuhkan Kyuhyun dan menolehkan kepalanya agar tak melihat Kyuhyun.
Kyuhyun masih berusaha menjelaskannya. Sampai-sampai dia memeluk Yu Ra dari belakang. Yu Ra agak terkesiap, karena, jarang-jarang Kyuhyun mau melakukan kontak fisik dengannya. Mungkin Kyuhyun bersikap begitu karena kemarin ia sekelompok dengan teman-temannya yang saling berpacaran itu. Dan mungkin ia iri melihat teman-temannya yang bermesraan itu.
Mereka masih saja bertengkar di depanku. Tapi, mereka malah terlihat seperti bermesraan.
“Yak! Kalian ini kan berpacaran. Berhentilah berteriak dan membuat kupingku tuli. Dan, asal kalian tahu, kalian bermesraan di depan orang yang sedang merana. Tidak sopan sekali.” Kataku menengahi pertengkaran mereka.
Mereka berhenti bertengkar dan menoleh menatapku. Yu Ra mungkin tak menyadari Kyuhyun masih memeluknya dari belakang, sehingga ia membiarkannya.
“Apa maksudmu sedang merana?” Kata Yu Ra
“Hufh… Kau kan tahu, aku tak punya pacar. Hey! Dan lihatlah. Kalian sekarang malah bermesraan di depanku. Huh! Makin membuatku merana saja.” Kataku cemburu melihat mereka berdua.
“Hah?” Kata mereka berdua bersamaan lalu menolehkan kepala masing-masing.
Mereka terkejut dengan posisi mereka sekarang. Dan saat itu juga, mereka saling menjauhkan diri. Aku hanya terkekeh melihat kelakuan mereka berdua.
“Yak! Kau mau ambil kesempatan ya?” Kata Yu Ra berteriak.
“Mwo? Harusnya aku yang bilang begitu kepadamu. Aku tak bernafsu denganmu.” Kata Kyuhyun membalas perkataan Yu Ra.
Jika kalian tidak mengetahui sikap mereka dengan baik, kalian pasti akan merasa heran kenapa mereka bisa menjadi sepasang kekasih.
“STOP! Berhentilah berusaha membuat kupingku tuli.” Kataku menengahi pertengkaran mereka lagi. Hanya karena masalah sepele seperti itu saja mereka sudah bertengkar. Bukankah sudah sepantasnya jika sepasang kekasih bersikap begitu? Mereka memang pasangan aneh. Huff
Mereka terdiam melihat wajah meranaku lagi.
“Kalau kau tidak punya pacar, kenapa kau tidak mencarinya?” Kata Kyuhyun akhirnya.
Aku mendengus mendengar perkataannya.
“Asal kau tahu, aku sudah berusaha mencari, dan tidak ada yang mau denganku karena tinggiku.” Kataku sambil berusaha menahan tangis.
“Yak! Kau ini tidak berperasaan sama sekali Kyuhyun! Masa kau tidak tahu jika ia sudah berusaha mencari pacar?” Kata Yu Ra sambil mengusap punggungku.
“Yak! Mana ku tahu. Aku saja baru tahu tadi.” Kata Kyuhyun sewot.
Yu Ra tak membalas perkataannya karena lebih memikirkan perasaanku yang sedang labil saat ini.
“Sudahlah. Suatu hari kau pasti akan menemukan takdirmu, percayalah padaku.” Kata Yu Ra sambil menenangkanku.
Aku hanya mengangguk dan kami pun pulang.
***
2 Days Ago
Aku sedang berjalan keluar rumahku dengan riang untuk pergi ke sekolah. Karena kemarin adalah hari minggu, Yu Ra mengajakku jalan-jalan berdua hanya dengannya tanpa mengajak Kyuhyun karena ia tahu perasaanku sedang labil. Dia memang sahabat paling pengertian.
Aku sudah mulai bisa melupakan tentang hal bodoh itu. Untuk memiliki pacar. Lebih baik aku tidak usah mencari cinta. Biarkanlah cinta yang mencariku.
Saat aku sudah menutup pintu pagar, aku terheran-heran melihat surat yang berada di kotak surat rumahku. Jarang-jarang ada surat atau kiriman paket dikirim ke rumahku.
Aku melihat surat itu. Surat itu berwarna putih dan sangat rapi. Aku semakin heran saat melihat ada tulisan CS berwarna biru muda dengan ukiran yang sangat indah di depan surat itu.
Aku membuka surat itu. Di dalamnya tertulis.
To: Kim Hye Na
Hari ini, akhirnya aku melihatmu lagi, senyummu, dan juga wajahmu. Aku berharap kau tahu siapa aku tanpa aku harus menyebutkan namaku, my lady.
CS
Aku semakin heran saat mengetahui surat itu ditujukkan untukku.
Aku berjalan perlahan menuju sekolah sambil meneliti surat itu.
“Apakah Kyuhyun dan Yu Ra sedang mengerjaiku? Tapi, ditilik dari sikap mereka, mana mungkin mereka mengetahui kata-kata romantis seperti ini. Dan, siapa itu CS? Setahuku tidak ada seseorang berinisial CS di kelasku?” Pikirku.
Aku mengedikkan bahuku tak peduli. Mungkin hanya orang iseng yang sedang mengerjaiku. Nanti juga ia bosan jika aku tak memperdulikannya.
Tapi, rasa penasaran masih tetap mengelitikku walau aku berusaha mengacuhkannya.
***
Tomorrow
“Ige Mwoya?” Kataku karena melihat surat yang sama seperti kemarin tergeletak di kotak surat rumahku lagi.
Aku kembali membuka surat itu dan membacanya sambil berjalan.
To: Kim Hye Na
My Lady, apakah kau tak mengingatku? Aku berharap banyak jika kau mengingatku. Aku agak sedikit kecewa saat melihatmu seperti mengacuhkan suratku yang kemarin. Apakah benar kau sudah melupakanku?
CS
Aku terkesiap melihat isi surat itu. Bagaimana dia bisa tahu jika aku mengacuhkan suratnya yang kemarin?
Aku menolehkan kepalaku ke kiri dan ke kanan untuk melihat apakah ada yang membuntutiku atau tidak.
Dan aku menyerah, tidak ada satu orang pun yang mencurigakan yang kulihat dari sorot mataku.
Aku memutuskan untuk bertanya kepada Yu Ra dan Kyuhyun hari ini.
***
“Yu Ra-ah~” Kataku memanggil Yu Ra yang sedang berada di kelasnya.
Yu Ra yang sedang membereskan peralatan sekolahnya untuk dimasukkan ke dalam tas pun menoleh mendengar namanya dipanggil.
“Ah, Hye Na-ah~ wae? Tumben kau ke kelasku.” Katanya sambil tersenyum.
Ini semakin aneh, jika ia bersikap begitu, berarti ia tak tahu tentang surat ini.
“Ehm… ani… aku hanya ingin berbicara dengan kau dan Kyuhyun hari ini. Otte?”
“Eh? Hm. Aku tidak tahu hari ini Kyuhyun ada tugas atau tidak. Kalau aku sih bebas hari ini. Ayo kita ke kelasnya untuk menanyakannya.” Kata Yu Ra lalu merangkulku menuju kelas Kyuhyun.
Dan, apakah aku belum bilang lagi? Kyuhyun adalah sunbae kami, ia lebih tinggi 1 tingkat dari kami. Itu mengapa aku memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’. Tapi Yu Ra menolak habis-habisan untuk memanggil Kyuhyun dengan sebutan ‘oppa’. Katanya, sebutan itu terlalu bagus untuknya. Aneh sekali dia.
***
Kami berdua pun sampai di depan kelas Kyuhyun.
“Sedang apa kalian berdua disini?” Kata seseorang yang tiba-tiba saja muncul dari belakang kami.
Kami berdua segera menolehkan kepala kami.
“Huh, aku tidak akan repot-repot mencarimu ke kelas ini jika bukan karena Hye Na yang mencarimu.” Kata Yu Ra sambil mendengus.
Kyuhyun mengacuhkan 12 kata pertama yang diucapkan Yu Ra. Dia menoleh melihatku.
“Ada apa kau mencariku?” Kata Kyuhyun oppa.
“Eung… Itu… Apakah… Oppa dan Hye Na sedang mengerjaiku dengan menulis surat aneh yang berada di kotak surat rumahku dan menggunakan inisial CS?” Kataku bertanya kepada mereka berdua.
Mata mereka berdua membulat.
“Hah? Aku tak pernah menulis surat untukmu. Sms sih iya. Tapi, surat tidak. Dan, aku saja baru tahu jika kau memperoleh surat seperti itu.” Kata Yu Ra.
“Aku juga. Aku tak pernah menulis surat dan menggunakan inisial seperti itu.” Kata Kyuhyun oppa.
Dilihat dari ekspresi dan gerak-gerik mereka, mereka seperti orang yang benar-benar tidak tahu tentang apa yang baru saja kuucapkan.
Aku pun hanya mendengus.
Kalau bukan mereka, lalu siapa yang mengirimkan surat aneh dan menggunakan inisial CS itu?
***
Tomorrow
Dan, lagi-lagi hari ini surat aneh itu tergeletak di kotak surat rumahku.
Dengan rasa penasaran yang menggelitik, aku membuka surat itu untuk yang ke-3 kalinya.
To: Kim Hye Na
Hahaha… Apakah kau sekarang penasaran denganku, My Lady? Tenang saja. Aku bukan orang iseng yang sengaja menulis surat yang menurutmu aneh ini untuk mengerjaimu. Aku menulis surat ini dengan tulus karena aku mencintaimu.
CS
Mataku membulat.
Apa? Apa tadi yang tertulis di surat itu? KARENA AKU MENCINTAIMU? HAH? Apakah orang ini sudah gila? Aku bahkan belum mengenalnya sama sekali.
***
Dan, hari demi hari pun terlewati, dan surat itu selalu datang setiap harinya.
To: Kim Hye Na
Hey, My Lady. Aku rasa kemarin kau benar-benar terkejut karena kau mendengar seseorang mencintaimu tetapi bahkan kau tidak tahu siapa itu. Hahaha
Hari ini cuacanya cerah sekali bukan, My Lady? Secerah dirimu yang memancarkan sinar yang begitu silau setiap harinya. Hahaha
Aku tidak sedang menggombal. Itu memang kenyataan. ;)
CS
To: Kim Hye Na
Apakah kau masih penasaran siapa aku? Baiklah. Aku akan memberimu 3 clue. Aku hanya akan memberikan 1 clue di setiap suratku.
Baiklah. Clue pertama adalah “Kita akan terus bersama selamanya.”
CS
Aku menatap bingung surat yang kubaca.
Clue apa itu? ‘Kita akan terus bersama selamanya?’ Huh?
Aku masih bingung dengan clue pertamanya. Tak apalah. Mungkin aku bisa mengetahuinya setelah aku mendapat 2 clue lagi. Tapi, tetap saja rasa penasaran terus menggelitikku karena clue pertama yang diberikannya.
To: Kim Hye Na
Apakah kau masih bingung? Hm. Baiklah. Ini adalah clue kedua “Kau hanya akan menjadi milikku.”
CS
Dan aku kembali menatap bingung surat yang kubaca sekarang. Apa itu? 'Kau hanya akan menjadi milikku?' Orang ini sudah gila sepertinya. Tapi, kenapa ada rasa nyaman dan aman saat membaca surat-surat darinya? Dan juga ada perasaan membuncah ingin tahu siapa yang menulisnya.
Aish! Aku sudah gila sepertinya.
"Sudahlah. Toh, masih ada 1 clue lagi." Kataku dalam hati.
To: Kim Hye Na
Clue terakhir adalah... "Aku menyayangimu Na Ya~"
Ah ya... dan selain clue terakhir ini, ini juga akan menjadi surat terakhir dariku untukmu. Aku rasa kau cukup terganggu dengan surat-surat anehku. Dan, kurasa aku tidak cukup gentelman karena hanya mengungkapkan perasaanku lewat surat saja.
Terima kasih sudah mau membaca suratku selama ini dan selalu menerima gangguan dariku. Saranghae, Yeongwonhi.
CS
Aku terkesiap melihat clue terakhir darinya.
Tiba-tiba saja kenangan masa kecilku berkelebat di dalam pikiranku.
*Flashback*
“Aku menyayangimu Na Ya~.” Kata seorang namja yang sedang tersenyum kepada seorang gadis.
“A… Aku juga sayang Siwon Oppa.” Kata gadis itu yang diyakini bernama Hye Na.
“Kalau begitu janji, ya, kita akan terus bersama selamanya. Dan kau hanya akan menjadi milikku.” Kata namja yang bernama Choi Siwon
Waktu demi waktu pun bergulir setelah kejadian itu. Dan, tiba-tiba saja namja itu menghilang. Dan, dengan seiring waktu, perlahan-lahan aku mulai melupakannya.
*End Of Flashback*
Dan dalam seketika aku tersentak.
Benarkah... benarkah ini dia?
Aku masih menatap surat ini tak percaya.
Setelah ia menghilang dan pergi ke luar negeri begitu saja dengan orang tua nya, aku tak pernah mendengar kabarnya lagi. Aku terus menangis seharian saat tau dia pindah ke luar negeri.
Sekarang, aku sudah tahu siapa yang menulis surat ini.
Dia... pasti dia... Ya, Siwon oppa. Aku baru menyadari saat itu bahwa marga Siwon oppa adalah Choi. Aigoo~
Aku harus segera mencarinya sesegera mungkin. Tapi dimana? Aish!
Aku kembali membaca surat itu dan kembali tersentak.
Jantungku terasa berhenti berdetak saat itu juga. 'Saranghae, Yeongwonhi'. Hanya karena 2 kata itu aku bahkan hampir pingsan.
Aku terus memikirkan cara agar dapat bertemu dengannya. Dulu, ia tetanggaku. Sekarang aku tidak tahu dia tinggal dimana. Mana mungkin aku memutari kota Seoul yang luas ini.
Aku kembali tersentak untuk ketiga kalinya. Aku baru menyadari tulisan itu. Ini... ini adalah surat terakhirnya? Ottokhe???
Aku merasa ia tak pernah menggangguku karena surat-surat darinya. Bahkan, aku senang dan merasa nyaman saat menerima surat darinya.
Dan juga... jika ia tidak mengirimkan surat untukku lagi, kesempatanku untuk bertemu dengannya akan semakin kecil.
Aku hanya menundukkan kepalaku dan berpikir keras bagaimana cara agar dapat bertemu dengannya.
***
Kepalaku agak sedikit pusing. Aku tidak tidur hanya karena memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Tuan Choi Siwon itu. Aish!
Tiba-tiba saja ada yang merangkulku dari belakang.
“Yak! Bagaimana? Apakah kau tahu siapa yang menulis surat aneh itu?” Kata Yu Ra yang ternyata merangkulku.
Aku menatapnya dan mengangguk pelan.
“WOAH! BENARKAH? SIAPA DIA?” Kata Yu Ra karena sangat penasaran dengan namja yang menulis surat aneh yang berkata bahwa ia mencintaiku.
“Ehm… Dia… Teman sejak kecilku.” Kataku pelan.
“WOAH! Benar-benar seperti novel, fanfic, dan komik. Suatu saat kalian akan bertemu lagi dan pada akhirnya takdir akan mempersatukan kalian. Lalu setelah itu kalian hidup bahagia selamanya.” Kata Yu Ra dengan segenap perasaannya.
Aku menjitak kepalanya.
“Yak! Kau ini kebanyakan baca-bacaan seperti itu. Perbanyaklah membaca buku pelajaran. Aku tahu kau pintar. Tapi, jika karena kau membaca novel, fanfic, dan komik member sifat negative seperti ini, aku akan menyita laptop beserta novel dan komikmu.” Kataku.
Dia memanyunkan bibirnya.
“Kau tahu kan, devinisi hidup ke-2 adalah laptop dan hp ku. Dan, devinisi hidup ke-3 ku adalah novel dan komikku. Apa kau ingin membuatku mati, hah?” Katanya mendengus marah.
“Setidaknya aku tidak mengambil devinisi hidup ke-1 mu.” Kataku santai.
Dia menatapku bingung.
“Hah? Aku bahkan belum pernah menyebutkan devisini hidupku yang ke-1 itu apa atau siapa. Bagaimana kau bisa tahu?” Katanya dengan tampang polos.
Aku ingin sekali tertawa terbahak-bahak di depannya.
“Yah… Tentu saja aku tahu. Dari mukamu saja sudah keliatan, babo.” Kataku.
“Bukankah devisini hidupmu yang ke-1 itu adalah Cho Kyuhyun oppa-mu tersayang itu?” Lanjutku yang berbisik di telinganya.
Mukanya langsung merah padam.
“Yak! Aku tak bilang bahwa devinisi hidupku yang ke-1 adalah namja babo itu!” Katanya dengan kesal tapi masih dengan muka merah padam.
Aku sekarang tak tahan untuk tak tertawa melihat sikapnya itu.
Dia menggembungkan pipinya dan aku mencubitnya karena ia terlihat sangat lucu saat marah. Haha Sahabat apa aku ini? LOL
Itulah mengapa Yu Ra selalu membuatku bersemangat dan melupakan hal-hal yang memberatkanku. Karena, ia selalu berhasil membuatku tertawa karena sifat polos dan anehnya itu.
Hah~ Tapi aku masih harus tetap memikirkan cara agar bisa bertemu dengan Siwon Oppa. Huff
Aku merasa di gerbang sekolah agak sedikit ramai. Sebenarnya ada apa?
Ah… peduli apa tentang itu. Kepalaku pusing dan aku ingin cepat-cepat merebahkan kepalaku ke atas mejaku. Aku pun segera menarik Yu Ra yang ingin melihat apa yang terjadi di gerbang sekolah kami.
***
Kyuhyun’s POV
“Mwoya? Kenapa kau menyalahkanku? Aku kan memang sedang mengerjakan tugas kelompok. Aish. Arasseo arasseo. Kau sedang bersama Hye Na di kantin kan? Ara. Aku akan segera kesana.” Kataku dengan segera menutup telponku sebelum Yu Ra melanjutkan omelannya. Padahal kan aku sudah memberi tahunya bahwa aku ada tugas kelompok hari ini.
Aku segera berlari, bergegas menuju kantin.
“Cho Kyuhyun shi~.” Tiba-tiba saja ada suara berat yang memanggilku.
Aku pun menolehkan kepalaku untuk melihat siapa yang memanggilku.
“Ne?” Kataku merespon kata-katanya.
“Ehm… Itu… aku hanya ingin bertanya. Apakah, ‘Hye Na’ yang kau sebutkan itu adalah seorang yeoja bernama ‘Kim Hye Na’?” Katanya bertanya kepadaku.
Aku mengerutkan keningku.
“Ah, mianhamnida. Kurasa kau sedang terburu-buru, sehingga… aku memutuskan untuk langsung menanyakan apa yang ingin kutanyakan.” Katanya merasa mengerti apa yang ada di pikiranku.
“Ah. Ne. Gwenchana. Ehm… ne… ‘Hye Na’ yang kumaksud pada saat di telepon tadi adalah ‘Kim Hye Na’. Waeyo? Apakah kau mengenalnya?” Kataku bertanya balik kepadanya.
“Ah, ani… tapi… bisakah aku ikut bersamamu pergi ke kantin?” Katanya ragu-ragu.
Aku menatapnya.
“Hm… baiklah. Ayo kita ke kantin bersama-sama.” Kataku sambil mengajaknya.
Kami berdua pun pergi ke kantin sambil berbincang-bincang sebentar.
***
Hye Na’s POV
Aku sedang memakan makananku di kantin bersama Yu Ra. Kyuhyun bilang dia masih mengerjakan tugas kelompok bersama teman-temannya.
Aku menatap Yu Ra yang sibuk memencet-mencet hp-nya dengan wajah geram. Ah, mungkin dia tidak sabaran untuk melihat wajah raja setannya itu. Kau tahu? Saat Kyuhyun sakit, Hye Na disekolah seperti mayat hidup yang sangat lesu saat tidak ada Kyuhyun. Begitu juga sebaliknya. Begitulah orang gila yang sedang jatuh cinta.
“Yak! Cho Kyuhyun! Dimana kau? Kenapa lama sekali? Apakah kau masih punya alasan lain selain mengerjakan tugas kelompok bersama temanmu itu, Hah? Cepat kesini!” Kata Yu Ra terdengar seperti memerintah.
Aku hanya terkekeh pelan melihat tingkahnya itu dan kembali melanjutkan makanku.
Tak berapa lama kemudian pun Kyuhyun datang dan langsung duduk di sebelah Yu Ra.
Yu Ra memalingkan wajahnya berpura-pura marah kepada Kyuhyun.
“Yak! Hae Yu Ra. Aku kan jujur padamu. Aku benar-benar mengerjakan tugas kelompok bersama temanku.” Katanya sambil menyenggol-nyenggol bahu Yu Ra.
Yu Ra mendengus dan menatap Kyuhyun.
“Kau memang jujur kepadaku Kyuhyun. Tapi, tidak adakah alasan lain selain itu? Aku sudah bosan mendengarnya.” Kata Yu Ra
“Huh, kalau aku bohong kepadamu, kau pasti akan membunuhku. Kau itu aneh. Jujur salah, bohong juga salah.” Kata Kyuhyun menggerutu.
Yu Ra pun terdiam karena aku tahu ucapan Kyuhyun itu benar.
“Sudahlah. Kenapa kalian harus bertengkar terus, sih? Apakah kalian tidak mempunyai pekerjaan lain sambil bertengkar?” Kataku sambil menatap mereka dan melanjutkan acara makanku.
“Ah! Benar juga. Daripada aku bertengkar dengan namja babo ini. Lebih baik aku mencari pekerjaan lain.” Kata Yu Ra yang sedetik kemudian mendapat jitakan dari Kyuhyun.
Aku hanya terkekeh.
“Hm, eh, oppa. Apakah kau tahu kenapa tadi saat kami berdua masuk sekolah gerbang sekolah sangat ramai. Apakah kau tahu kenapa?” Kataku agar mereka tidak melanjutkan pertengkaran mereka lagi.
Kyuhyun dan Yu Ra menoleh ke arahku.
“Hah? Itu. Entahlah. Aku juga tidak tahu. Mungkin karena murid baru yang menempati kelas yang sama denganku?” Kata Kyuhyun tiba-tiba.
Aku dan Yu Ra terperangah.
“Jinja oppa? Bagaimana wajahnya? Apakah dia tampan? Pasti sangat tampan karena waktu di gerbang sekolah banyak sekali yeoja-yeoja yang histeris begitu.” Kata Yu Ra menggebu-gebu dan kembali mendapat jitakan dari Kyuhyun. Yu Ra pun meringis.
“Yak! Kenapa kau menjitakku lagi, hah?” Kata Yu Ra memprotes.
“Apakah kau tidak punya sopan santun sehingga berbicara seperti itu di depan kekasihmu sendiri?” Kata Kyuhyun ketus.
Aish! Mereka mulai lagi. Entah sudah berapa kali aku memperingatkan mereka agar tidak bertengkar sejak pertama kali bertemu mereka. 100 kali? Ani. 1000 kali ada mungkin. Hah~
“Kalian berdua, berhentilah bertengkar. Dan, siapa namja yang sekarang menempati kelasmu itu, oppa?” Kataku berusaha mengalihkan pertengkaran mereka dengan topic pembicaraan kami.
“Ah… namanya…”
“Mianhae, Kyuhyun shi~ Antriannya sangat panjang tadi.” Kata seseorang yang tiba-tiba saja datang dan memotong perkataan Kyuhyun oppa.
Kami bertiga mendongak untuk melihat siapa yang mempunyai suara itu.
DEG! Aigoo... dia… DIA TAMPAN SEKALI!!! KYA!!! Astaga astaga. Aku mulai gila setelah melihat wajahnya barusan. Dan yang paling penting adalah. DIA LEBIH TINGGI DARIKU. Kutegaskan sekali lagi. DIA LEBIH TINGGI DARIKU. Jika dikira-kira, saat aku berdiri disebelahnya, mungkin saja aku hanya se-kupingnya. Atau sebahunya? Entahlah. Tapi, tunggu… kenapa wajahnya terasa sangat familiar?
Aku hanya terperangah melihat wajah namja yang berada di depanku saat ini.
“Ah… kau panjang umur Siwon shi. Dan, Hye Na. Ini teman baruku yang juga menempati kelas yang sama denganku. Namanya Choi Siwon.” Kata Kyuhyun membuyarkanku dari lamunanku.
Aku menolehkan kepalaku menatap Kyuhyun. Aku yakin aku tidak tuli karena pertengkaran konyol mereka karena sebelum namja yang berada di hadapanku ini datang pendengaranku baik-baik saja.
“Annyeonghaseyo. Jeouneun Choi Siwon imnida. Aku teman sekelas Kyuhyun.” Kata namja itu tiba-tiba.
Aku benar-benar merasa aku tidak salah dengar sekarang.
Aku kembali menatap namja itu dengan marah, tapi ekspresinya biasa-biasa saja.
Aku segera beranjak dari tempat dudukku dan menarik namja yang bernama Choi Siwon itu ke atap sekolah. Dia hanya diam saja dan mengikutiku.
Setelah kami sampai disana. Aku menatapnya tajam. Kami terdiam cukup lama.
“Kenapa oppa pergi tiba-tiba saat dulu? Kenapa oppa meninggalkanku? Kenapa oppa mengirimkanku surat-surat aneh? JAWAB OPPA! KENAPA KAU HANYA DIAM SAJA?” Aku meracau tidak jelas sambil berusaha menahan isakan tangisku.
“DAN KENAPA KAU TIBA-TIBA MUNCUL DIHADAPANKU BEGITU SAJA SETELAH 12 TAHUN BERLALU? KEN…”
Aku terkesiap saat tiba-tiba saja Siwon Oppa menarikku kepelukannya dan menciumku dengan lembut.
Setelah beberapa saat, ia melepaskan ciuman dan pelukannya.
Aku sudah tidak bisa berpikir dengan jelas sekarang. Aku sedikit terhuyung tapi dengan segera ia memelukku lagi.
“Kau tahu? Saat aku memelukmu seperti ini, kau seperti akan berada di dalam dekapanku untuk selamanya.” Katanya tiba-tiba.
Ia melepaskan pelukannya dan menarikku untuk duduk dan menyender di dinding.
Aku hanya diam sambil terus menatapnya dan mengagumi wajahnya yang 100 persen. Ah… ani… 1000 persen (atau lebih?) lebih tampan saat dia masih kecil.
Dia menghembuskan nafasnya dan menatapku.
“Kau pasti bingung kan, kenapa aku pergi tiba-tiba dan datang tiba-tiba juga lalu mengatakan bahwa aku mencintaimu dan ingin kau selalu berada di dekapanku selamanya?” Katanya sambil menengadahkan kepalanya menatap langit.
Aku hanya diam saja.
“Baiklah… Daripada aku terus membuatmu bingung. Lebih baik aku menjelaskannya.” Katanya.
“Eomma dan appa memutuskan untuk pindah ke London saat aku masih kecil dan aku juga harus pergi bersama mereka kesana. Sebenarnya aku sangat ingin berbicara tentang kepindahanku ini kepadamu, tapi eomma sudah menarikku duluan ke dalam mobil lalu menuju bandara tanpa menanyakan pendapatku.”
“Dan… saat ini, eomma dan appa memutuskan untuk pindah kembali ke Korea. Kami pindah ke rumah baru, tetapi, aku sempat mendatangi rumahmu yang dulu. Dan, ternyata kau sudah pindah ke tempat yang baru.”
“Dan, pada akhirnya aku mendapatkan alamat rumah barumu setelah berusaha mencarinya. Aku memutuskan agar tidak menemuimu dan hanya menuliskan surat-surat aneh yang selalu mengganggumu setiap harinya. Bukankah aku bisa dibilang seorang pengecut, eh?”
Aku hanya diam dan berkonsentrasi mendengarkan kata demi kata yang diucapkannya.
“Aku juga tahu bahwa kau akan meledak jika melihatku berada di depanmu. Tapi, aku berusaha untuk tidak menjadi seorang pengecut yang hanya bisa menuliskan perasaanku di atas kertas. Sehingga, aku memutuskan untuk berada di sekolah yang sama denganmu.”
Perkataannya membuatku kembali terkesiap sangit takjubnya.
“Jadi, apakah kau masih marah padaku karena aku sudah bersikap seperti itu selama ini terhadapmu?” Katanya sambil bertanya kepadaku.
Aku cemberut.
“Aku tidak marah padamu oppa. Hanya sedikit kesal saja.” Kataku sambil menggembungkan pipiku.
Dia mencubit pipiku pelan.
“Kau ini tidak berubah. Itu sama saja tahu.” Kata Siwon oppa.
“Oh ya, kalau aku bilang aku mencintaimu, aku mengatakannya tulus dari lubuk hatiku.” Lanjutnya.
Aku kembali mematung dan dia hanya terkekeh melihat ekspresiku yang seperti itu.
“Kau tidak sedang bercanda kan oppa?” Kataku setelah mendapatkan setengah kesaranku kembali.
“Tidak. Untuk apa aku bercanda, Na Ya~?” Katanya lalu mengecup keningku.
“Tapi, bagaimana bisa?” Kataku.
“Aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Sejak kecil.” Katanya sambil tersenyum.
Dia kembali memelukku.
“Kita akan terus bersama selamanya. Dan kau hanya akan menjadi milikku.”
***
5 Years Ago
Aku duduk di kursi panjang sambil menyandarkan kepalaku di bahu seorang namja yang sangat kucintai.
Kami sedang menikmati angin pantai di belakang rumah kami berdua. Yah~ rumah kami sengaja dibuat berada di dekat pantai. Siwon oppa sangat mengidam-idamkan rumah yang berada di dekat pantai.
Setelah ia lulus kuliah, Siwon oppa mengajakku menikah dan aku dilarang menolaknya dengan alasan apapun. Tapi, sebenarnya tidak ada alasan untuk menolaknya. Hanya saja, aku masih kuliah. Tapi, sepertinya tidak apa-apa jika Siwon oppa tidak melakukan apa-apa terhadapku selama aku belum menyelesaikan kuliahku.
Suasana di sekitarku sangat nyaman, aman dan damai. Saat sebuah suara menghancurkannya.
“Ckckck… kalian terlalu romantis. Aku jijik melihat kalian seperti itu.” Kata suara berat dibelakang kami.
Kami berdua menoleh dan melihat ratu iblis dan raja setan sedang berada di hadapan kami.
Kyuhyun berdecak melihat kami dan Yu Ra sudah memasang wajah ekspresi ingin muntahnya itu. Padahal, mereka berdua sudah menikah. Bahkan mereka menikah lebih cepat dariku dan Siwon oppa.
Mereka memang tidak berubah, tetap saja kekanak-kanakan. Bedanya sih, sekarang mereka sudah menjadi pasangan suami istri, dan Kyuhyun oppa menjadi sering menyentuh Yu Ra yang sensitif jika disentuh. Kyuhyun oppa sangat sering memeluk Yu Ra dari belakang dan Yu Ra selalu berteriak jika ia melakukannya. Mereka lucu sekali jika itu terjadi. Haha
“Kalau kalian tidak suka melihat adegan kami, kenapa kalian tidak pergi saja dan menjauh dari kami?” Kata Siwon oppa sambil berdecak.
Kyuhyun oppa berdecak juga dan Yu Ra hanya tertawa melihat Siwon oppa dan Kyuhyun oppa.
“Sudahlah. Jangan memulai pertengkaran lagi. Dan, hei. Kalian sudah 1 tahun menikah. Kenapa tidak punya anak?” Kataku kepada Kyuhyun oppa.
Dalam seketika itu juga, wajah Yu Ra memerah.
“Hah, bagaimana mau punya anak kalau yang akan mengandungnya bahkan tak mau melakukannya?” Kata Kyuhyun oppa.
“Yak! Aku bukan tidak ingin melakukannya. Hanya belum siap!” Kata Yu Ra membentak marah.
“Dan sampai kapan kau siap nyonya Cho? Apakah kau ingin mendengar ocehan eomma yang menurutmu sangat mengesalkan itu lagi karena kau belum siap?” Kata Kyuhyun lagi.
Yu Ra hanya memanyunkan bibirnya.
“Yak! Jika kalian hanya ingin bertengkar di depan kami, lebih baik kalian pergi. Kalian menghancurkan suasana syahdu diantara kami. Ckckck” Kata Siwon oppa.
“Huh! Kau menyebalkan hyung!” Kata Kyuhyun oppa lalu masuk ke rumahku bersama Yu Ra.
Aku hanya tersenyum melihatnya. Walau mereka itu selalu saling membentak satu sama lain, mereka saling mencintai. Aku pernah liat tatapan Kyuhyun oppa saat Yu Ra sedang tak melihatnya. Tatapannya sangat lembut dan seperti memuja. Begitu juga sebaliknya. Tapi, jika mereka sedang saling menatap. Jangan harap kalian melihat tatapan lembut diantara sesama. Yang ada, kalian akan melihat tatapan kesal dan saling ingin membunuh. Pasangan aneh, tidak ingin mengakui perasaan sendiri. Huff
“Yak! Kenapa kau tersenyum-senyum?” Kata Siwon oppa membuyarkanku dari lamunanku.
Aku kembali tersenyum sambil menyenderkan kepalaku di dada bidangnya.
“Tidak. Hanya saja, aku masih teringat perilaku pasangan aneh itu saat masih sekolah.”
Siwon oppa juga tersenyum setelah aku mengatakan itu.
“Yah~ Kurasa bahkan Kyuhyun hampir gila saat Yu Ra mengikuti studi banding selama seminggu, sehingga ia tak dapat melihatnya.” Kata Siwon oppa.
Aku tertawa kecil saat Siwon oppa mengatakan itu.
“Hey, oppa. Selain membuatku tersenyum, terkejut, dan membuatku terpesona. Apa lagi yang bisa kau lakukan?” Kataku mencoba menggodanya.
Dia menatapku dalam lalu tersenyum.
“Jika melakukan hal itu, orang lain pun bisa melakukannya. Tapi, ada 1 hal yang tak bisa orang lain lakukan dan hanya aku yang bisa melakukannya.”
“Apa itu?” Kataku sambil menatapnya bingung.
“Mencintaimu. Tidak akan ada orang yang bisa mencintaimu sebesar aku mencintaimu.”
= THE END =
ini apa? -_- halah... cacat bener lah ff ini. -__- endingnya sinting banget. -___- XD
oh iya... ini cast yang ada di ff ini:
- Kim Hye Na (Tia)
- Choi Siwon (Super Junior)
- Cho Kyuhyun (Super Junior)
- Hae Yu Ra (saya)
Do Not Take This W/out My Permission And Don't Claim This As Yours Labels: Fanfics