<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/1834785569985742356?origin\x3dhttp://ohsehun.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Photobucket

DISCLAIMER

No ripping, spamming, blablabla etc etc….


PROFILE


Hello~~~ ~^o^~ Lusy was here (?) Ok. First... My name is Lusy and my Korean name is Hyun Ji. You can call me Lusy or Hyun Ji. It's up to you ^^ I'm 14 yo and was born on March 22nd~ ^^ I'm an EXO Fans. And my bias are Suho and Luhan Nice to meet u guys ^^~ You can ask me anything in cbox :D



WISHLIST

♥ New laptop
♥ Buy EXO new album



TAGBOARD




AFFIES

EXO FANS Indonesia Facebook Fanpage



PAST

March 2010
October 2010
November 2010
December 2010
January 2011
February 2011
March 2011
April 2011
May 2011
June 2011
September 2011
November 2011
March 2012
April 2012



CREDITS

Designer: Helena
Image: Cyworld
Basecodes: Milkypoop
Cursors: Puremilky


Wednesday, June 22, 2011 8:29 PM


My Camera, My Privation

cr pic: blogskins

YuRa’s POV

Aku sedang memotret pemandangan yang ada di sekitarku. Pemandangan di sekitar sini memang indah sekali.

Aku menyesap cappuchino ku perlahan-lahan sambil melihat hasil foto yang baru saja ku hasilkan.

Café ini adalah café langganganku. Aku sangat suka atmosfer di café ini. Sangat indah. Mereka merancang café ini dengan sangat tepat.

Semua tempat duduk yang berada di café ini mempunyai kesan yang berbeda dan sama indahnya. Sehingga, mau duduk dimana saja, café ini akan tetap terlihat indah.

Café ini mempunyai jendela yang langsung menembus keluar sehingga terlihat pemandangan indah yang berada di luar sana. Anak-anak kecil sedang berlarian, pepohonan yang sangat rindag, dan pemandangan indah lainnya.

Aku sangat ingin menjadi seorang photographer. Aku suka melihat pemandangan indah di depanku dan hasilnya cukup memuaskan untuk seorang amatiran sepertiku.

Selain memotret pemandangan, aku juga suka memotret orang-orang.

Asal kalian tahu saja, di sekolah, aku bahkan bisa dijuluki stakler. Eh? Aneh sekali mereka menyebutku seperti itu.

Aku selalu membawa kameraku kemana-mana karena aku takut akan ada yang melihat gambar-gambar di kameraku.

Jujur saja, sangat banyak foto-foto rahasia yang berada di kamera itu. Dan, tentu saja itu bukan foto porno. Jangan memikirkan yang aneh-aneh. -_-

Cappuchino yang kuminum sejak 1 jam yang lalu sudah habis tak bersisa. Aku membayar cappuchino itu dan berjalan pulang karena hari sudah mulai senja.

***

Aku sedang duduk di kelas sambil memegangi kameraku. Teman-temanku sudah tidak heran lagi jika kameraku adalah benda berhargaku. Tapi, mereka tidak sekalipun mempermasalahkan jika aku tidak ingin menunjukkan apa yang ada di dalamnya karena aku tak pernah menyebarkan ke situs jejaringan sosial atau yang lainnya jika aku memotret mereka.

Kelas ini agak sedikit ribut. Guru terakhir tidak masuk dan sebenarnya kami boleh saja pulang. Hanya saja, aku sedang malas untuk pulang.

Tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk punggungku.

Aku beranjak bangun untuk melihat siapa yang menepuk punggungku.

Aku tersenyum melihat siapa yang menepuk punggungku tadi.

Yang berada dihadapanku saat ini adalah sahabat-sahabatku. Kim Hye Na dan Choi Ji Yoo.

“Yak! Apa yang sedang kau lamunkan, hah? Ayo kita pulang.” Kata Hye Na.

“Yups! Tak tahukah kau bahwa perutku ini lapar? Aku ingin pulang.” Kata Ji Yoo sambil memegang perutnya. Dasar. Anak itu memang tak bisa lepas dari makanan.

Aku beranjak dari tempat dudukku dan segera membereskan barang-barangku sebelum mereka mengomel lagi.

Kami ber-3 pergi keluar kelas sambil berbincang-bincang.

“Hey, kau tahu kan sebelum pulang kita harus kemana?” Kata Hye Na sambil senyam senyum begitupula dengan Ji Yoo.

Aku hanya mengehela nafas.

“Aku tahu. Berhentilah memberitahuku. Ini bahkan sudah 100x kau menyebutkan itu Hye Na.”

Hye Na dan Ji Yoo hanya cengar-cengir gak jelas.

Kami ber-3 pun berjalan menuju tangga lantai 2. Karena kami masih kelas 1 Senior High School, kami berada di lantai paling bawah. Kelas 2 dan 3 berada di lantai 2 dan 3. Sedangkan, di lantai 4 dan 5 adalah tempat lab dan perpustakaan. Sedangkan, ruang guru-guru juga berada di lantai 1 tetapi gedungnya terpisah dengan gedung kelas 1.

Saat kami hendak naik ke atas. Kami mendengar suara 3 namja yang berbincang sambil tertawa-tawa.

Seketika juga badanku membeku.

“Oh, hey. Kami sudah menunggu kalian dari tadi. Karena terlalu lama, kami memutuskan untuk pergi ke kelas kalian.” Kata seorang namja yang… ehem… kuakui tampan yang sedang tersenyum lalu menghampiri kami. Kedua namja yang berada di belakangnya mengikutinya untuk menghampiri kami.

Kedua orang dari ketiga namja itu menghampiri Hye Na dan Ji Yoo.

Namja yang berada di samping Hye Na menggenggam tangan Hye Na, dan, namja yang berada di samping Ji Yoo menggenggam tangan Ji Yoo lalu mencium pipinya. Eh? APA? MENCIUM PIPINYA?

“DONGHAE OPPA!!! KENAPA KAU MENCIUM PIPIKU??? INI DI SEKOLAH!!!” Teriak Ji Yoo sambil menahan marah dan malu. Mukanya memerah.

Donghae yang ternyata adalah nama namja itu hanya terkekeh kecil.

“Karena kita sudah tidak bertemu selama 7 jam. Aku kangen padamu.” Kata Donghae memulai gombalannya.

Aku yang sedang meminum air putih hampir saja memuncratkan minuman itu keluar.

“Yak! Yak! Lee Donghae! Jaga sikapmu. Ini di sekolah.” Kata seorang namja yang berada di sebelah Hye Na sambil menjitak Donghae oppa.

“Yak! Choi Siwon! Jangan menjitak kepalaku!” Kata Donghae oppa kepada namja yang bernama Choi Siwon itu lalu mengelus kepalanya yang habis terkena jitakan.

Aku dan Hye Na hanya terkekeh kecil melihatnya. Sedangkan, Ji Yoo masih berusaha menutupi mukanya yang memerah karena malu.

Tiba-tiba ada yang menyenggolku dan sepertinya berusaha mengambil kamera yang berada di tanganku.

Aku menoleh untuk melihat siapa orang itu.

“Yak!!! Cho Kyuhyun!!! Apa yang sedang kau lakukan, hah? Kau kira aku tidak tahu?” Kataku sambil menatapnya tajam.

Dia mengerling.

“Ck… Padahal aku sudah melakukannya dengan perlahan-lahan agar tidak ketahuan.” Katanya sambil berdecak kesal.

“Lagian, kenapa kau penasaran sekali dengan foto-foto yang berada di kameraku, hah?” Kataku agak kesal.

“Karena bisa saja disitu bisa ada foto porno. Dan setidaknya aku menyelatkanmu dari hukuman jika benar kau menyimpan foto-foto porno karena kau tidak ingin memperlihatkan foto yang ada disana.”

Aku menginjak kakinya dengan kesal. Dia merintih kesakitan.

“YAK! Kau yeoja bukan sih?” Teriaknya marah sambil memegangi kakinya yang kuinjak.

Aku menatapnya dan menginjak kakinya yang satu lagi.

“Yak! Cukup sampai disini. Apakah kalian tidak dapat berdamai untuk 1 hari saja?” Kata Siwon oppa menengahi perkelahian kami.

“TIDAK BISA!” Kataku dan Kyuhyun berbarengan. Kami saling menatap, lalu menolehkan kepala kami kearah lain.

Ke-4 orang yang berada di depan kami hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kami berdua.

Kyuhyun’s POV

Beginilah rutinitasku setiap hari saat berada di sekolah. Selalu saja bertengkar dengannya.

Argh! Aku memang tidak bisa mengatakan perasaanku secara terang-terangan. Aku kan bukan ikan gila yang dengan seenaknya mencium pipi gadis yang disukainya di depan umum.

Aku sangat penasaran dengan foto-foto yang berada di kameranya. Dia selalu membawa kameranya kemana-mana.

Aku hanya beralasan bahwa ada foto porno di kameranya. Sebenarnya, bukan itu yang kukhawatirkan. Aku hanya khawatir tentang foto namja yang disukainya yang berada di kameranya. Aku takut jika ia ternyata menyukai seseorang dan itu bukan aku. Aku sangat penasaran karena sempat mendengar perbincangan Yu Ra dan Ji Yoo.

*Flashback*

Aku sedang berlari ke kantin dan memutuskan mengambil jalan pintas menuju taman belakang karena menurutku jalan itu lebih dekat menuju kantin.

Langkahku terhenti saat mendengar suara familiar yang sering kudengar.

Aku bersembunyi dan sedikit mengintip agar melihat siapa yang berbicara.

“Hey! Yu Ra ah~ Aku ingin tahu kenapa kau sama sekali tidak ingin memberitahu apa saja foto-foto yang berada di kameramu? Sampai membuat motto ‘My Camera, My Privation’ begitu.” Kata seorang yeoja yang kukenali bernama Ji Yoo.

“Hm… kenapa ya? Yang jelas. Tentu saja aku tidak mengambil gambar-gambar porno. Kau kan tahu, melihat orang berciuman saja aku sudah jijik.” Balas Yu Ra.

“Aku tidak bilang kau menyimpan foto-foto porno Hae Yu Ra. Aku hanya ingin tahu kenapa kau melarang kami untuk melihat kameramu. Ayolah, aku kan sahabatmu.” Kata Ji Yoo merajuk.

“Haha… kenapa kau penasaran sekali 1 minggu ini Choi Ji Yoo?” Kata Yu Ra sedikit bercanda.

“Oh, ayolah. Aku hanya ingin tahu mengapa. Setelah itu aku tidak akan membahas tentang ini lagi, ok? Bagaimana?” Kata Ji Yoo mengusulkan.

Yu Ra terlihat seperti berpikir.

“Ehm… baiklah. Aku akan bilang kepadamu. Tapi, kau jangan bilang ke siapa-siapa. Yang tahu hal ini hanya Hye Na, kau, dan aku. Arasseo?” Kata Yu Ra sedikit mengancam.

Ji Yoo mengangguk cepat.

“Ehm… sebenarnya… di kamera ini… aku banyak mem-foto namja yang diam-diam kusukai.” Kata Yu Ra agak sedikit malu-malu.

“APA???” Ji Yoo langsung berteriak shock setelah mendengar itu.

Yu Ra membekap mulutnya sambil memperhatikan sekitar untuk memastikan tidak ada yang mendengar teriakan Ji Yoo yang cempreng itu.

“Yak! Diamlah! Sudah kubilang, jangan sampai ada yang tahu selain Hye Na, kau, dan aku.” Kata Yu Ra sedikit kesal.

“Hehe… maaf. Keceplosan.” Kata Ji Yoo sambil memasang muka innocentnya dan membentuk tanda peace di tangannya.

“Lalu… siapa namja beruntung yang kausukai itu, huh? Setahuku, selama ini kau tak pernah menyukai seseorang?”

“Choi Ji Yoo… bukankah kau sudah berjanji tidak akan membahas tentang kamera itu lagi setelah aku memberitahunya?” Kata Yu Ra.

“Eh? Bukankah hal kamera dan namja itu berbeda?” Kata Ji Yoo polos.

“Aigoo… tetap saja. Kan masih berhubungan dengan apa yang dibicarakan.” Kata Yu Ra sambil mencubit pipi Ji Yoo.

“Yak! Kenapa kau mencubit pipiku, hah? Aku kan hanya penasaran.” Kata Ji Yoo cemberut sambil mengelus pipinya.

“Haha… kenapa kau sangat penasaran dengan hal-hal sepele sih? Walau kau membelikanku poster Super Junior saja tak akan kuberitahu siapa namja itu.” Kata Yu Ra sedikit bercanda.

“Uuh… kau pelit.” Kata Ji Yoo masih cemberut.

Mereka berdua pun berlalu begitu saja setelah percakapan itu.

Aku bertanya-tanya di dalam hatiku siapa namja itu. Aku sudah menyukai Yu Ra sejak ia melangkahkan kakinya di sekolah ini. Akan berbahaya jika ternyata pria yang disukai Yu Ra itu juga menyukainya. Aku tidak akan bisa bernafas dengan baik saat itu terjadi.

Aku tetap diam di tempatku sambil berpikir. Seketika juga, aku mengingat sesuatu dan menepuk kepalaku.

“Aigoo! Tadi kan aku mau pergi ke kantin. Aish… gara-gara Hae Yu Ra itu.” Kataku berbicara pada diri sendiri.

Aku bergegas berlari ke kantin sambil berpikir sejuta alasan agar Siwon dan Donghae tidak marah menunggu lama di kantin.

*End Of Flashback*

Aku harus memikirkan cara untuk mengetahui isi dari kamera itu. HARUS. Jika aku sudah mengetahuinya, aku akan melakukan apapun agar pria itu pergi dari kehidupan Yu Ra.

YuRa’s POV

Aigoo aigoo!!! Hampir saja. Untung saja aku dapat menyelamatkan kameraku ini. Walau berakhir dengan perkelahian.

Oke, ini khusus untuk kalian. Aku akan memberitahu mengapa aku tidak ingin memperlihatkan kameraku kepada siapapun.

Karena… namja yang kusukai itu adalah… CHO KYUHYUN!

Aku bukanlah tipikal yeoja yang akan berterus terang kepada namja yang kusukai. ANDWAE! TIDAK MUNGKIN.

Kalau sedang sendirian, aku akan memotretnya diam-diam tanpa sepengetahuan siapapun. Dan, apakah kalian tahu? Foto itu kucetak dan kutempel di dinding kamarku. Itulah kenapa aku tidak memperbolehkan Hye Na dan Ji Yoo masuk ke kamarku. Mau di kemanakan mukaku ini?

Aku merasa benar-benar seperti stakler. Aku cukup puas dengan hasil-hasil foto diam-diamku ini. Mungkin, hasil fotonya kalau di jumlahkan ada 1000 lebih. Aku sudah mengoleksi fotonya sejak menginjakkan kakiku di sekolah ini.

Dan, aku ini adalah tipikal yeoja yang tidak bisa dekat-dekat dengan namja yang kusukai. Setidaknya namja itu harus berada jauh 1 meter atau lebih dariku.

Kalian pasti bingung kenapa aku sampai bisa menginjak kaki Kyuhyun tadi. Benarkan? Sebenarnya, bahkan, jantungku hampir lepas saat berada sedekat itu dengannya. Aigoo! Untung saja aku tidak pingsan.

“Jauh jauh dariku kau Cho Kyuhyun!” Kataku sambil berjalan ke samping Hye Na.

“Siapa juga yang mau dekat-dekat denganmu. Dan, YAK! Sudah berapa kali kau kuperingatkan, hah? PANNGIL AKU OPPA!!!!!” Kata Kyuhyun yang membuat burung-burung yang berada di dekatnya langsung pergi kalang kabut dan juga membuat kami menutup kuping untuk yang kesekian kalinya.

Oke. Saat seorang Cho Kyuhyun bernyanyi, kalian akan merasa aman dan nyaman berada di dekatnya. Tapi, pada saat dia berteriak seperti tadi, lebih baik kalian pergi untuk menyelamatkan kuping kalian dari ancaman tuli mendadak.

“Aigoo… Kyuhyun… berhentilah berusaha membuat kuping kami semua tuli.” Kata Siwon oppa sambil mengusap-ngusap kupingnya yang nyeri karena teriakan Kyuhyun.

“Huh, jangan salahkan aku jika membuat kalian tuli. Salahkan yeoja itu.” Kata Kyuhyun sambil menunjukku.

“Mwo? Apa katamu? Kenapa kau jadi menyalahkanku? Aish.” Kataku kesal.

“Stop! Stop! Tidak ada perkelahian lagi untuk hari ini. Kepalaku sudah pusing dengan ajaran Guru Kim yang sangat tidak jelas itu di kelas.” Kata Donghae oppa sambil memijat-mijat kepalanya.

“Bukankah pelajaran itu hanya diulang? Itu kan materi yang paling gampang di semester ini.” Kata Kyuhyun sambil mencibir.

“Aku tahu kan pintar matematika tuan Cho Kyuhyun.” Kata Donghae oppa sambil menekankan suaranya di setiap katanya.

Kyuhyun hanya cuek saja mendengarnya. Kuakui, dia memang sangat ahli di bidang matematika. Tidak sepertiku, ulangan mudah saja mendapat 65. -_-

Aku memilih untuk diam daripada melanjutkan pertengkaranku dengannya. Aku sedang malas hari ini. Aku hannya memilih menjauh dan diam.

Kami ber-6 pun pulang ke rumah masing-masing. Rumahku dan Cho Kyuhyun itu searah. Tapi, untung saja rumah Siwon oppa dan Hye Na juga searah dengan rumahku. Sehingga, aku tidak perlu bertengkar dengannya.

***

Author’s POV

Hari ini Yu Ra kembali bermalas-malasan di kelasnya.

Yu Ra merasa tiba-tiba perutnya sakit dan seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Sehingga, ia memutuskan untuk pergi ke toilet dan tanpa sengaja, ia meninggalkan kameranya di atas atas mejanya.

Kyuhyun’s POV

Aku, Siwon, dan Donghae pergi ke kelas Yu Ra, Ji Yoo, dan Hye Na. Pada jam istirhat, kadang-kadang kami akan pergi ke kelas mereka dan mengajak mereka untuk pergi ke kantin bersama-sama.

Kami ber-3 akhirnya sampai di kelas mereka. Siwon dan Donghae langsung berlari ke arah Ji Yoo dan Hye Na begitu saja. Saat mereka sedang bersama yeojachingu mereka itu, aku pasti dilupakan. Naas sekali hidupku.

Aku mengarahkan pandanganku ke seluruh kelas dan, aku tidak melihat Yu Ra. Aku tak menghiraukan teriakan yeoja-yeoja yang ada di sekitarku. Oh, apakah aku belum bilang? Aku adalah Ketua Osis yang mempunyai prestasi terbaik selama sekolah ini berdiri. Aku bahkan pernah dibilang nyaris sempurna karena hampir tidak ada yang cacat di dalam diriku. Sekalipun di wajahku ada pimples, tetap saja pesonaku tidak tertahankan. Aku sampai heran kenapa Yu Ra cuek-cuek saja melihatku tidak seperti yeoja lain yang langsung berteriak histeris.

“Yu Ra tadi pergi ke luar begitu saja oppa. Kami tidak tahu dia pergi ke mana. Tapi, tadi aku melihatnya memegang perutnya, kurasa dia ke toilet.” Kata Hye Na yang cukup mengejutkanku karena ia sudah berada di sampingku bersama Siwon.

“Oh, begitu.” Kataku berpura-pura cuek. Aku kembali mengarahkan pandanganku ke seluruh kelas dan melihat meja yang diatasnya terdapat kamera seperti kepunyaan Yu Ra.

Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada Hye Na.

“Hem, itu tempat duduk siapa?” Kataku sambil menunjuk tempat duduk yang kucurigai tempat duduk Yu Ra.

“Hah? Oh, itu tempat duduk Yu Ra oppa. Aigoo… tumben sekali dia meninggalkan kameranya. Kurasa dia sedang terburu-buru sampai lupa membawa kameranya.” Jawab Hye Na.

Benar dugaanku, itu memang tempat duduk Yu Ra.

“Yak! Kyuhyun ah~ Ayo pergi ke kantin!” Ajak Donghae yang sudah berada di depan pintu kelas.

“Eh? Euhm… aku akan menunggu Yu Ra sampai dia datang saja. Kalian ber-4 duluan saja.” Kataku.

“Oh, baiklah. Kalau Yu Ra sudah kembali, langsung susul kami ke kantin, ok?” Kata Siwon.

Aku hanya mengangguk dan mereka pun pergi ke kantin.

Aku kembali mengarahkan mataku ke kamera yang berada di tempat duduk Yu Ra.

Aku berjalan mendekati kamera itu. Dan meraihnya dengan tanganku.

Aku sedikit mengutak-ngutiknya. Dan, aku tersentak melihat apa yang sedang kulihat saat ini.

“YAK! CHO KYUHYUN! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? HAH?”

Aku kembali tersentak saat mendengar suara seseorang yang meneriakkiku.

YuRa’s POV

Aku keluar dari toilet dengan perasaan lega.

“Sepertinya aku salah makan tadi pagi sampai-sampai seperti ini.” Pikirku.

Saat berjalan pelan di koridor sekolahku, aku menyadari ada sesuatu yang janggal. Tapi apa?

Aku berpikir keras untuk beberapa saat. Dan saat aku menemukan kejanggalan itu. Aku langsung berteriak.

“MWO? KAMERAKU!”

Aku bergegas berlari ke kelasku untuk mengambil kameraku. Aku tak menghiraukan pandangan aneh orang-orang yang melihatku.

Dan, saat aku sampai di kelas, apa yang kulihat?

CHO KYUHYUN SEDANG MENGUTAK-ATIK KAMERAKU! GYAAAAAAAAA!!! ANDWAE!!!

Sepertinya sudah terlambat, karena, aku sempat melihat dia tersentak melihat apa yang ada di dalam kamera itu. Appa, umma, anakmu akan mati sebentar lagi. TT__TT

“YAK! CHO KYUHYUN! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN? HAH?” Teriakku dengan seketika dan membuatnya tersentak.

Dia membalikkan badannya dan dalam seketika juga aku mengambil kameraku secara cepat dari tangannya dan mematikan kameraku.

“M… mwo? Aku hanya… melihat kameramu.” Katanya sedikit tersendat-sendat.

Aku tahu, ia sudah melihat isi kameraku. Seketika juga wajahku memerah.

Aku hendak berlari keluar kelas tapi tangannya menahan tanganku lalu menarikku keluar kelas.

“Siwon, Hye Na, Donghae, dan Ji Yoo sudah menunggu kita di kantin. Ayo.” Katanya tanpa menatapku.

Tangannya sangat hangan dan nyaman. Aigoo!!! Aku bisa pingsan! Andwae!!!

Kyuhyun’s POV

Aku sudah tidak dapat memikirkan apa-apa lagi saat mengetahui isi kamera Yu Ra. Aku langsung menggenggam tangannya saking senangnya. Dia pun hanya diam dan mengikutiku. Sepertinya kami berdua sedang tidak waras untuk saat ini.

Saat sampai di kantin, sebelum Siwon dan Donghae melihatnya, aku melepaskan genggaman Yu Ra. Ada rasa sedikit tidak rela. Tangannya sangat lembut dan sangat nyaman saat di genggam.

“Oh! Kalian sudah disini. Ayo duduk!” Kata Siwon sambil menyuruhku dan Yu Ra duduk.

Kami berdua duduk berhadapan karena hanya tempat itu yang tersisa. Siwon, Hye Na, Donghae, dan Ji Yoo heran melihat kami yang tidak bersikap seperti biasanya. Tapi, daripada mereka melihat hawa setan kami berkoar, mereka memilih untuk tidak memperdulikan kami.

***

Pelajaran matematika adalah pelajaran kesukaanku. Tapi, saat ini aku sedang tidak dapat berpikir jernih saat meningat kejadian itu. Aish! Hae Yu Ra dengan mudahnya merusak fungsi kerja otakku!

Saat guru Kim lengah, aku menulis pesan di hp ku dan mengirimkannya pada seseorang.

YuRa’s POV

Hari ini pelajaran Fisika, dan aku sangat bosan. Aku sangat membenci pelajaran itu. Walau aku sedikit menyukai matematika. Oke. Teliti baik-baik perkataanku tadi. Sedikit. Tapi, aku tidak suka istilah-istilah tidak jelas yang berada di pelajaran Fisika. Matematika hanya menggunakan x, y, dll. Sedangkan, Fisika? Istilah tak jelas apa itu? Aku hampir frustasi saat ulangan Fisika. Untung saja teman sekelasku ada yang berbaik hati yang mengajarkanku Fisika dengan kesabaran tingkat tinggi karena otakku sangat lambat untuk menangkap pelajaran itu.

Aku sedikit tersentak karena tiba2 saja hp ku bergetar. Tanda ada pesan masuk.

Aku melirik hp ku untuk melihat pesan yang ada disana saat guru Soo Ae masih berkicau dengan istilah-istilah tidak jelas.

From: Cho Kyuhyun
Temui aku di taman belakang sekolah saat jam pulang. Jika kau tidak datang, kau akan rasakan akibatnya Hae Yu Ra.

Aku mengerling kesal melihat sms darinya. Tumben-tumben dia meng-sms ku dan sampai-sampai mengancamku segala.

Aish… Aku yakin dia akan membicarakan soal kameraku lagi. Andwae… bagaimana ini. Kalau aku tidak datang bisa-bisa dia malah menyebar tentang apa yang ada di dalam kameraku. Jika aku datang, mau ditaruh mana mukaku? Andwae!!!

Aku meremas kesal hp ku tanpa memperdulikan panggilan guru Soo Ae yang ternyata sudah memanggil namaku dari tadi.

“YAK! HAE YU RA! KAU MAU MATI, HAH? CEPAT KEMARI DAN KERJAKAN SOAL INI! JIKA KAU TAK BISA, KAU KUHUKUM BERDIRI DI DEPAN KELAS SAMPAI PULANG SEKOLAH!”

Aku tersentak kaget mendengar teriakan guru Soo Ae. Teman-temanku tertawa melihatku tapi, Hye Na dan Ji Yoo hanya bingung melihatku.

“Nde songsaenim. Jeoseonghamnida.” Aku membungkukkan badanku dalam-dalam dan menuju ke arah papan tulis dan berusaha mengerjakan soal itu.

Untung saja dongsaengku pernah mengajarkanku materi ini. Sehingga aku bisa mengerjakannya sedikit mudah. Jangan heran jika malah dongsaengku yang mengerti pelajaran anak SMA. Dongsaengku memang hebat dalam pelajaran Fisika. Aku merasa menjadi unnie yang tidak becus jika mengingat hal itu.

“Hm. Kau mengerjakannya dengan benar. Yasudahlah. Kali ini kau maafkan. Lain kali jangan diulangi lagi.” Kata guru Soo Ae.

“Nde songsaenim. Jeoseonghamnida.” Kataku sambil menundukkan badanku lalu bergegas menuju tempat dudukku.

Aish! Awas kau Cho Kyuhyun! Aku akan menginjak kakimu saat kita bertemu. Lihat saja nanti!

***

Aish! Namja kurang ajar! Dia menyuruhku untuk mendatanginya di taman belakang sekolah, tapi bahkan batang hidung orang yang menyuruhku kesini aja tidak ada.

Aku memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang berada di dekatku. Aku menunggu Kyuhyun sambil membaca buku komik kesukaanku.

Kyuhyun’s POV

Aku melihatnya sedang duduk sambil membaca buku di taman belakang.

Aish! Aku gugup. Apa yang harus kulakukan? Bukankah aku yang menyuruhnya kesini? Kenapa malah aku yang grogi?

Aku memutuskan untuk menghampirinya dari belakang tanpa bersuara karena sudah dari tadi aku hanya melihatnya duduk disitu.

Saat aku sudah sampai di dekatnya, aku memeluknya dari belakang. Aish! Otakku kembali rusak saat ini juga! Aku tak tahu akal sehatku sudah pergi kemana.

“Kyu… Kyuhyun… apa yang sedang kau lakukan? Lepaskan aku!” Katanya memerintah sambil berusaha melepaskan pelukanku.

Bukannya melepaskannya, aku malah mempererat pelukanku. Aku sudah gila sepertinya.

“K… Kyuhyun…” Ia tersendat-sendat memanggilku. Ia pasti merasa aneh dengan sikapku yang sekarang. Aku bahkan merasa aneh dengan diriku sendiri.

“Jadi, benarkah itu?” Kataku akhirnya berbicara.

“Mwo?” Katanya bingung.

“Benarkah bahwa kau menyukaiku?” Kataku langsung. Seketika itu juga badannya langsung membatu. Tebakanku sangat benar.

“Ani. Kau salah.” Katanya lirih.

DEG! Apa maksud dari perkataannya. Kalau memang aku salah, untuk apa dia menyimpan foto-fotoku?

Dia membalikkan badannya lalu menatapku dengan mata besarnya.

“Kau salah dalam pengucapan kata-kata Cho Kyuhyun. Aku bukan menyukaimu. Tapi mencintaimu.”

Seketika itu juga hatiku meledak. Aigoo… Aku memeluknya lagi.

Setelah cukup lama aku memeluknya, akhirnya aku memutuskan untuk duduk disebelahnya.

Cukup lama tidak ada perbincangan di antara kami. Tidak ada yang ingin memulai percakapan sama sekali. Padahal biasanya kami bahkan akan saling melempar satu sama lain.

“Ehm… kenapa aku tidak pernah tau saat kau memotretku?” Akhirnya aku memulai pembicaraan.

“He? Ehm… itu karena… aku memotretmu saat tidak ada orang di sekitarku dan saat kau tidak memandangku.” Katanya sedikit malu.

“Saat aku tidak memandangmu? Lalu, bagaimana bisa fotoku sangat jelas dan itu menampakkan semua mukaku? Dan, sepertinya aku terlihat memandangmu.” Kataku bingung.

“Ehm… mungkin… karena aku mengambil di sisi yang tepat? Entahlah. Aku pun tak tahu.” Katanya lalu menundukkan kepalanya.

Aku meraih dagunya dengan tangan kananku. Aku mengecup bibirnya lembut.

Cukup lama kami dengan posisi seperti ini. Yu Ra juga tidak berontak saat aku melakukannya. Ia tidak memberontak, maupun membalas. Ia hanya diam saja. Tapi, aku tak peduli dia akan berontak, karena aku akan tetap memaksanya. Haha

Aku melepaskan bibirku dari bibirnya.

Aku dapat melihat mukanya yang memerah karena perilakuku.

“Hm. Sekarang, aku mengerti maksud motto ‘My Camera, My Privation’.” Kataku sambil tersenyum lalu merangkul bahunya.

“Karena kau memutuskan untuk terjatuh dalam perangkapku. Kau tak akan bisa terlepas dariku mulai sekarang karena aku akan mengikatmu di sampingku untuk selamanya. Dan…” Kataku sengaja menggantungkan perkataanku. Dia pun menatapku penasaran karena aku menggantungkan kata-kataku.

“Namamu akan menjadi Cho Yu Ra suatu hari kelak hingga selamanya.” Kataku lalu memeluk tubuhnya.

= THE END =

1 kata: HANCUR!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! XDDDDDDDDDD
*nyanyi lagunya olga* *eh?
ROFL~
Gak nge feel banget ff ini. -__- hadeuh… muter2 aja mah ini ff nya. XD
Cast:
  •  Hae Yu Ra (Me) -_-
  • Cho Kyuhyun (Super Junior)
  • Kim Hye Na (Tia)
  • Choi Siwon (Super Junior)
  • Choi Ji Yoo (Amesa)
  • Lee Donghae (Super Junior)
itulah cerita gaje bin abal sodara2... maaf kalo tidak memuaskan...
soalnya saya dipaksa. T~T *dihajar tia ama mesa*
xP
silahkan menikmati. -_- (?)
Do Not Take This W/out My Permission And Don't Claim This As Yours

Labels: